Sunday, May 1, 2011

Valuable Person [chapter 5]

Author: Kang Eunjin (@icicicaaa)

Rating: G

Length: Chaptered

Genre: Friendship, family, Romance, Angst (?) --a

Cast:  
  • Jung Yongeun
  • Lee Jungshin CNBLUE
  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Lee Jonghyun CNBLUE
  • Seo Joo Hyun SNSD

Other Cast:  
  • Kim Eunhee (fiktif)
  • Heo Chanmi co-ed
  • Kang Eunjin (author numpang nama akhirnya u,u)
  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Jungshin’s appa
  • Jungshin’s umma
  • Lee Hongki FT ISLAND
Note: FF ini tercipta karna author pengen banget punya abang kandung == apalagi kalau abangnya perhatian+cakep /plak. Mungkin bakal banyak chap karna author pengen juga buat ff penuh rahasia eaea tapi kayaknya gagal wk.
Mungkin pada bosen karna kelamaan, mian *bow*
Disclaimer: para artis milik yang maha kuasa, ceritanya punyaku, I don’t make money from this B)




  “Dari semuanya, bagimana kau bisa kenal Seohyun dan apa hubungan kalian dengan Jonghyun oppa, kenapa bisa kau membenci mereka, lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan Hongki oppa, dan…mmppphhh” perkatanku terputus karna oppa membekap mulutku dengan tangannya.


“Kau ini! Tadi merasa sok tidak penasaran, sekarang tampak antusias sekali” ucap oppa sambil menggeleng-
gelengkan kepalanya. Aku hanya nyengir dan membentuk v-sign pada jari-jariku.

Oppaku yang lama sudah kembali. Oppa yang begitu perhatian. Yah, setidaknya satu orang berhargaku membuatku senang lagi. Tapi disaat ini juga aku kehilangan orang berhargaku yang lainnya, Jungshin-ah mianhae..

Ah, ada pesan masuk. Dari Jungshin..


Yeobo, kenapa kau diam saja ketika makan malam tadi? Sebenarnya ada apa denganmu? Aku dan appa tertawa tapi kau hanya tersenyum tipis. Ah, aku akan meneleponmu oke?


Aku melihat pesan itu sebentar. Lalu kumatikan handphone ku, sekali lagi mianhae Jungshin.


Yah, itu memang sedang mengusik pikiranku, tapi lebih baik kudengar cerita oppa dulu.
 
- Flashback, Jung Yonghwa’s POV-

“Ya! Yong, kau tidak mendengar ocehanku ya daritadi?” Hongki mengagetkanku yang sedang melamun melihat yeoja disana itu.

“Ah, ne? kau cerita apa tadi? Mianhae Hongkiyaa,” ucapku memelas. Hongki membuang mukanya dan cemberut.

“Kau sekarang sering melamun Yong! Apa yang ada difikiranmu huh?Oh, jangan-jangan seorang Yeoja? Omo~ ceritakan padaku?!”

“Aniyo, hanya kepikiran nilaiku yang akhir ini menurun,” aku bohong padanya. Aish, sahabatku yang satu ini memang tahu sekali kalau aku sedang menyukai seseorang.

“Kau bohong! Huh, begitu rupanya, kita tidak saling terbuka lagi sekarang, Yong jahat!” Hongki cemberut lagi dan memandang lurus ke lapangan sekolah ini. Posisi kami yang dilantai dua membuat kami bisa melihat orang yang lalu-lalang dilapangan. Itulah yang membuatku melamun tadi, yeoja itu lewat dengan lucunya. Rambutnya yang dikuncir bergoyang mengikuti irama langkahnya.

Wajah Hongki yang tadinya cemberut tiba-tiba menjadi sumringah. Ditepuknya bahuku berkali-kali. Yah, aku tahu kecemberutannya tadi hanya bercanda. Dia sahabatku, kami sudah mengerti satu sama lain.

“Yong, kau ingat adik kelas yang aku ceritakan kemarin? Itu dia, cantik bukan? Dia akan tahu perasaanku besok!” ujar Hongki mantap sambil menunjuk yeoja yang sedang duduk bercanda dengan temannya. Ya Tuhan, yeoja yang ditunjuknya..

“Ta tapi bukannya dia anak kelas satu? Kita sudah kelas tiga lho..”

“Ne, memang apa salahnya? Anak SD sekarang saja sudah mengerti cinta!” Hongki benar, aku saja menyukainya. Ya, aku menyukai yeoja yang sama dengan Hongki. Aku diliputi rasa bimbang sekarang. Mengalah atau terus berjuang mendapatkan yeoja itu.

*.*.*

“Hahaha, jinja?”

“Ne, kau tidak percaya padaku huh?”

“Sayangnya tidak, hahaha,” aku cemberut, Hongki meragukan hasil ulangan matematiku yang bagus. Kami baru keluar dari ruang guru karna wali kelas memberi kami tugas, sebagai ketua dan wakil ketua kelas inilah tugas kami. Aku memilih lewat belakang, sekedar iseng. Lagipula agak risih juga melihat adik-adik kelas yeoja yang tersenyum sok manis didepan kami kalau lewat lapangan.

“Waah, lihat itu Yong! Siapa yang mau bolos,” ucap Hongki sambil mengarahkan matanya kearah tiga orang namja yang sedang berusaha memanjat tembok belakang sekolah.

“Ya! Jonghyun-ssi?” namja yang kupanggil Jonghyun itu menoleh.

“Sial,” umpat Jonghyun berbisik yang dapat kutangkap dari gerakan mulutnya, “hei kalian berdua tolong jangan beritahu soal ini! Jebal, aku mohon.”

Hongki melihat kerahku untuk menunggu jawaban. Aku mengangkat bahuku, “biarkan saja, lagipula bukan urusan kita,” kataku yang ternyata didengar oleh Jonghyun, ia tersenyum dan melanjutkan aksinya.

“Gomawo~” ucapnya saat dia sudah berada dipuncak tembok itu lalu melompat dari sana.

*.*.*

“Katamu hari ini kau mau menyatakan perasaanmu padanya. Kenapa tidak jadi?” tanyaku saat aku dan Hongki berjalan pulang melewati sebuah rumah kosong, rumah kami dekat dengan sekolah jadi kami tidak membutuhkan transportasi untuk pulang. Huh, dari pertanyaanku sekilas aku tampak menantang Hongki, padahal aku takut sekali kalau itu benar-benar terjadi.



“Ternyata susah sekali Yong. Apalagi Seohyun itu jarang kelihatan, aku jadi bingung mau mulai darimana,” Hongki menggaruk kepalanya.

“Ternyata dua sahabat karib ini sedang membicarakan Seohyun. Hongki, eh itu namamu kan? Kau menyukainya ya?” Jonghyun dan kedua temannya berdiri dibelakang kami, sambil melipat kedua tangan mereka di dada. Ada apa?

“Kau mau apa Jonghyun-ssi?” tanyaku baik-baik, aku malas mencari gara-gara dengan namja yang suka memukul orang ini.  Sayang sekali, padahal ia anak yang pintar, tampan, dan juga kaya. Mungkin ia hanya salah pergaulan.

Jonghyun berjalan mendekatiku. Ia lalu tersenyum licik.. “Aku mau ini..”

Bug

Ia memukul wajahku hingga darah segar mengalir dari hidungku.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” Bug. Hongki membalas perlakuan namja itu. Kedua namja yang lainpun turut dalam perkelahian ini.

Aku tidak bisa diam. Mereka menyerang sahabatku! Jonghyun meringis kesakitan saat aku daratkan pukulan kewajahnya. Namja yang lain terlihat ingin memukulku, tapi Jonghyun mengangkat tangannya tanda menyuruh mereka untuk tidak melawan.

“Aku tidak mau masa skors ku bertambah karna ini. Yonghwa-ssi, gara-gara mulut bocor kalian berdua aku tidak boleh bersekolah selama beberapa hari dan orangtuaku juga diharuskan menghadap walikelas! Dasar namja pengecut yang bisanya hanya mengadu,”

“Hah? Kami tidak melakukannya Jonghyun, sungguh,” aku berkata jujur. Bahkan ia mau tetap bolos atau tidak, aku sama sekali tidak perduli.

“Ohh, kau kira aku bakal percaya? Hah, ayo kita pergi darisini. Ingat Yong, kau akan menerima balasanku,” ancamnya sambil berlalu. Aku dan Hongki saling tatap dan bertanya-tanya.

*.*.*

“Seohyun, mau ikut aku sebentar?” ajak Hongki dengan senyum memikatnya saat Seohyun keluar dari kelasnya. Seohyun terlihat bingung tapi tetap mengikuti kemana tangan Hongki membawanya.

Demi Tuhan, aku ingin pulang. Tapi Hongki mau aku melihat pengakuan perasaannya tersebut. Seandainya dia tahu aku benar-benar tidak sanggup melihatnya, hah namun tidak mungkin juga aku memberitahunya bahwa aku juga menyukai Seohyun. Ia sahabatku, itu akan melukai perasaannya. Yah, begitulah menurutku, lebih baik menutupi daripada mengetahuinya tapi akan menimbulkan perasaan sakit.

“Seohyun, aduh harus bilang apa ya,” ucap Hongki saat ia tiba dibelakang sekolah. Ia menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal, ia gugup juga ternyata.

“Kau adik kelas yang sudah menarik perhatianku dari awal. Aku suka padamu Seohyun-ah. Aku janji aku akan menjadi namjachingumu yang baik,” Hongki lalu tersenyum lebar setelah melaksanakan pengakuannya. Aku kagum akan keberanian sahabatku satu-satunya ini.

Aku tidak tau harus mengatakan apa jika Seohyun menerimanya. Aku juga tidak ingin melihat sahabatku terluka jika Seohyun menolaknya. Seohyun, katakan ya! jangan. Katakan tidak! Katakan ya! katakan tidak! Arrrghhh.

“Oppa baik dan lucu sekali,” Hongki menatapnya penuh harap.

“Tapi aku hanya menyukai Yong oppa,”

Baik aku maupun Hongki sama-sama terkejut. Dia menyatakan perasaannya padaku ketika sahabatku sedang menyatakan perasaannya padanya. Aku senang? Tidak, tidak sama sekali. Hongki kelihatan benar-benar kecewa. Pasti sakit sekali hatinya sekarang. Mungkin dia akan baik-baik saja kalau Seohyun sekedar menolaknya, tapi ini, dikarnakan orang lain dan orang lain itu adalah sahabatnya sendiri.

Aku tidak menyalahkan Seohyun, aku rasa itu karna kepolosannya. Aku lebih merasa tidak enak pada Hongki. Aku melihatnya mengambil tas bersiap pergi dari sini. Ia datang kehadapanku dan memukul bahuku pelan.

“Yong, chukkae,” ucapnya dengan senyum dan pergi. Ingin sekali menyusulnya, tapi Hongki lebih senang menyendiri ketika punya masalah, ia tak ingin menyusahkan orang lain.

“Aku mengerti perasaanmu, tapi bukan berarti kau mengatakannya didepan Hongki kan?” kataku datar kepada Seohyun. Aku meninggalkannya sendiri. Kasihan juga melihatnya, tapi ada baiknya aku tidak memikirkan perasaanku dulu sekarang.

*.*.*

Sejak peristiwa itu, aku dan Hongki kelihatan lebih kaku. Walaupun masih sering bersama-sama karna kata ‘sahabat’ masih kami sandang. Semua murid sudah pulang, kami berdua yang tinggal dikelas sekarang. Kami lebih suka begini karna malas jika harus beramai-ramai dijalan raya sana.

“Yong, aku ke toilet dulu ya,” Aku mengangguk.

Lihat, padahal biasanya dia selalu mengajak pergi bersama.

Aku memasukkan semua bukuku dengan lambat. Sesekali berhenti karena kebanyakan melamun. Aneh rasanya harus bertingkah kaku pada sahabat baik sendiri.

“Yong oppa?” suara seorang yeoja menyapaku, ia muncul dari balik pintu dan masuk kedalam kelasku.

“Seohyun? Kenapa kau kemari?” tanyaku datar.

“Ingin melihatmu saja, aku tahu kalau kau suka memperlambat jam pulangmu,” jawabnya riang sambil tersenyum polos kearahku. Omona, senyumnya itu.. Yong, pikirkan Hongki!

“Oh. Mian ya, aku harus mencari Hongki, annyeong,” kataku terburu-buru bergegas menghindar darinya. Namun sebuah tangan lembut menarikku. Seohyun memelukku erat dari belakang.

“Oppa, jangan menghindar seperti ini terus,aku menyukaimu. Memangnya salah ya oppa? Apa ini karna Hongki oppa? Kau tega sekali sih hiks,” Seohyun mulai menangis. Dibenamkannya kepalanya dipunggungku.

Aku melepasnya pelukannya pelan. Kini aku sedang berhadapan dengannya, ku pegang bahunya.

“Seohyun-ah, tolonglah. Ada orang yang sangat mencintaimu disana. Dan dia sahabatku, tidak mungkin aku merebutmu darinya. Mengertilah Seohyun.”

“Aku baru akan mengerti kalau oppa bilang bahwa oppa tidak menyukaiku!”

“Seohyun..” lidahku tercekat. Aku juga tidak bisa berbohong padanya tentang perasaanku.

“Oppa tidak bisa bilang kan? Oppa menyukaiku juga kan? Kenapa oppa harus mengorbankan perasaan oppa?!” ia mulai menangis cukup keras. Ah, aku tidak sanggup melihatnya. Tanganku mulai meraihnya dan memeluknya.

“Sssst, tenanglah Seohyun. Kau tahu, ini berat bagiku. Hongki adalah sahabatku, ia orang yang berharga bagiku. Ara ara, aku juga tidak bisa menutupi kalau aku menyukaimu, tapi..” belum selesai aku bicara, perkataanku dipotong oleh seseorang.

“Oh, begitu ya Yong? Aku tahu sekarang, sahabatku!” Hongki melihat kami. Astaga, ia langsung pergi. Ku lepaskan pelukan Seohyun dan menyusulnya.

“Hongkiyaa!!! Ne, itu perasaanku sebenarnya! Tapi aku memikirkanmu makanya aku tidak mau bilang sejak awal!!” teriakku diambang pintu.

“Argggh!! Sejak awal kau sudah merencanakannya Jung Yong Hwa!!! Simpan semua omong kosongmu itu. Nikmati semuanya diatas penderitaanku, hah kau benar-benar SAHABAT BAIKKU JUNG YONGHWA!!” balas Hongki dengan menekankan kata-kata yang terakhir. Ia berlari dengan kencang.

“Arrghhh!” aku menendang pintu karna emosi, aku harus apa sekarang? Setelah pertemanan kami yang kaku, sekarang bahkan terancam musnah. Bagus! Dan itu dikarnakan yeoja!

“Oppa, mianhaeyo, aku harus pergi sekarang,” ucap Seohyun tiba-tiba. Sungguh tingkah yang aneh, dia pergi begitu saja. Aigo, memikirkan keanehan Seohyun saja aku tak bisa karna kepalaku yang pusing merasakan ini semua.

*.*.*

“Hongki! Kau harus bertahan!”

Hongki kini berbaring lemah dengan darah berlimpah ditubuhnya. Seorang pengemudi mobil tak bertanggungjawab telah menabraknya. Mobil itu sedang diincar polisi. Tapi peduli apa dengan mobil itu, aku butuh sahabatku selamat sekarang!

Mobil ambulan akhirnya datang. Tubuh Hongki diangkat keatasnya. Hongki masih terus menahan sakitnya dengan memegang perutny..

“Ya! Yong, sudahlah jangan panik begitu.” Ucap Hongki lemah saat ambulan mulai berjalan. Astaga, aku tak sanggup mendengarnya.

“Bagaimana mungkin aku tidak panik ketika kau seperti ini!”

“Wajahmu jelek tahu kalau panik,” Hongki terkekeh, saat-saat seperti ini ia masih bisa bercanda. Ya, inilah sahabatku, orang yang sangat ceria, tapi lihat kondisinya sekarang. Bahkan ini terjadi tepat setelah aku melukai perasaannya.

“Eh, dimana Seohyun?” tanyanya tiba-tiba. Aku tertegun. Hongki mencoba bangkit, “Argggh,” erangnya keras. Ia berbaring kembali. Dia pasti sangat merasakan sakit.

“Kau jangan banyak bicara dulu! Biar aku saja yang bicara! Tolong dengarkan aku, kau itu sahabatku dan aku tidak mau melihatmu menyakitimu diri sendiri dengan banyak bicara seperti ini! Hongki, mianhae soal tadi, Hongki, aku benar-benar merasa bersalah. Maafkan aku,” tidak terasa airmataku jatuh. Hongki tersenyum getir.

“Aku sudah berpikir selama dijalan tadi, aku tak semestinya egois. Eh, ketika aku sedang berpikir mobil itu malah menabrakku. Kau itu namja Yong! Jangan menangis gara-gara masalah sepele seperti ini, toh sebentar lagi aku akan pergi, buang-buang air mata saja!” katanya semakin lemah. Sepertinya semakin sulit baginya untuk berbicara.

“YA! Jangan berbicara seperti itu,”

“Aku menyedihkan ya Yong, sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini aku belum sempat mendapatkan cinta pertamaku. Dia bahkan menolakku mentah-mentah,” Hongki terus berbicara padahal nafasnya sudah mulai tercekat.

“Hongki.. Berhenti.”

“Tapi aku senang. Banyak orang yang menyayangiku, seharusnya aku bersyukur punya sahabat sebaik dan sekeren kau kekeke. Untukmu dan semua orang yang menyayangiku, aku tidak bisa berbuat banyak lagi haaaaaaaaaaaaah,” ucapan Hongki terhenti karna ia menarik napasnya panjang.

“Gomawo, jeongmal gomawo, aku sayang kalian, selamat tinggal,” Airmataku sekarang bertambah deras. Hongki tersenyum,matanya kemudian terpejam, sebagai tanda ia telah meninggalkan dunia ini. Meninggalkan keluarga yang mencintainya. Meninggalkan Seohyun, cinta pertamanya. Dan meninggalkanku, sahabat yang ia bilang terbaik, padahal nyatanya sudah mengecawakannya.

Aku bahkan belum menebus semua penyesalanku, tidak bisakah kau kembali menjadi sahabatku lagi? Orang yang aku ajak tertawa setiap hari, orang yang mengerjaiku setiap hari. Tega sekali kau meninggalkanku dengan segudang penyesalan, aku belum membayar semua budi baikmu Hong! Dan jika kau mau, Seohyun akan kuserahkan padamu, akan kubuat ia menyukaimu bahkan mencintainya.

Percuma Yong! Itu takkan mungkin! Ya, aku tahu itu. Pada kenyataannya, Hongki tidak akan pernah kembali.

*.*.*

Aku pergi kesekolah dengan langkah gontai. Padahal aku masih sangat berduka tapi aku diharuskan sekolah. Cih.Tak ada niat sama sekali untuk sekolah. Biasanya setiap pagi Hongki akan menyapaku untuk pergi bersama, tapi kali ini, hanya kenangan saja yang tersisa. Pelajaran sekolah tak ada satupun yang masuk ke otakku. Bagaimana mungkin aku bisa fokus sedangkan perasaan kehilangan yang bercampur aduk penyesalan menyelimutiku?

Kriiing…

Akhirnya bel berbunyi. Aku langsung bergegas untuk pulang. Kelamaan di sekolah akan membuatku teringat saat-saat aku dan Hongki menunggu sekolah sepi, dan juga saat Seohyun memelukku, beberapa menit sebelum kematianya. Sial, aku ingin sekali membeci yeoja itu. Tapi ini juga kesalahanku. Yong, jangan salahkan siapa-siapa! Ini salahmu!

Aku melewati kelas Seohyun, aku tundukkan kepalaku agar ia tidak melihatku.

“Yeobo, kau memang hebat!”

“Gomawo oppa, aku akan melakukan apapun demi oppa.”

“Yonghwa dan sahabatnya memang pantas dibegitukan, huh siapa suruh cari gara-gara denganku!”
Hah? Siapa itu? Dia membawa-bawa namaku dan Hongki. Seohyun dan Jonghyun, sedang apa mereka berdua saja didalam kelas?

 “Hihi, aku kan yeojachingu nya oppa. Asal oppa senang, aku juga senang. Jadi kalau oppa memintaku menghancurkan hubungan dua orang yang oppa benci itu, tentu saja dengan mudah aku lakukan.”

“Kau memang yeojachingu yang baik dan manis.”

Jadi ini hanya permainan mereka? Menghancurkan hubungan persahabatanku?

“Aku mendengar itu, sialan kalian berduaaaaaaaa!!”


Aku memukul Jonghyun, mengeluarkan seluruh emosiku. Darah segar keluar dari hidungnya. Karna dia aku tidak bisa lagi melihat sahabatku. Arggghhh…

Bug.

Dia membalasku. Aku menyerangnya lagi. Kami saling hantam. Kudengar Seohyun menjerit sambil terisak.

“Oppa! Hentikan!” aku tidak memperdulikannya. Terus memukul Jonghyun hingga kami berdua lelah. Aku kemudian meninggalkan mereka berdua, aku pulang dengan kondisi lebam dimana-mana.

 Mulai detik ini, aku tidak mau melihat mereka berdua lagi..

*.*.*

“Yong, mukamu kenapa sayang? Aigo, kau bertengkar?” eomma menyambutku pulang dengan keadaan khawatir.

“Eomma, bolehkah aku pindah sekolah?”

“Eh? Waeyo? Jangan bilang karna perkelahian ini?”

“Aniyo, aku, aku tidak bisa lagi sekolah disana. Terlalu banyak kenangan bersama Hongki,” jawabku sambil menundukkan kepalaku. Jawabanku hanya separuh benar, selebihnya karna aku tidak mau melihat dua orang menyebalkan itu lagi.

“Yang eomma tahu, kau itu laki-laki yang kuat Yonghwa!”

“Eomma, jebal.”

“Baiklah, aku juga tidak mungkin memaksamu. Besok kami urus sekolahmu. Sekolah ditempat Yongeun saja ya?”

“Ne, terserah eomma. Aku justru senang sekali. Anak kelas satu SMP sekarang kan sudah pandai pacaran, eomma. Jadi bisa sekalian memantau hahaha,” aku melirik Yongeun yang sedang menonton kartun di televisi. Kalau dari sikapnya, rasanya dia belum tertarik dengan kata pacaran atau sejenisnya. Tapi ternyata dia mendegar obrolanku dengan eomma, dia hanya cemberut.

“Ya! Kenapa cemberut? Takut ketahuan ya?”

“Ketahuan apa? Babo,” ucapnya sambil menjulurkan lidahnya. Aku mengejarnya hingga rumah menjadi seperti kapal pecah karna habis kami terjang.

Besok kehidupan baruku dimulai. Mungkin aku sampai kapanpun tidak akan bisa melupakan Hongki. Taoi setidaknya, aku sudah menghindar dari dua orang sialan itu.

- Flashback end-

Yongeun membekap mulutnya dengan tangannya setelah aku menceritakan semua kejadian yang menghantui hari-hariku. Ternyata, setelah menceritakannya aku sedikit lega.

“Sudah tahu ceritanya kan?

“Oppa, aku tidak akan sekuat oppa jika aku menanggung rasa penyesalan seperti itu,” katanya dengan tatapan masih tak percaya.

“Mau tak mau aku harus menanggungnya Yongeun.”

“Hmm, tapi itu bukan salahmu! Itu salah yeoja si bidadari palsu bernama Seohyun!”

“Yongeun-ah..”

“Oppa, itu salah gadis itu dan Hyung nya Jungshin! Bukan kau!”

“Aish, sudah sana pergi tidur, aku mengantuk,” kudorong tubuh Yongeun agar berjalan menuju kamarnya.

“Tapi oppa, kau tidak boleh merasa seperti itu.”

“Hoaam, apa kau mau aku tinggalkan sendirian? Aku ingin ke kamar, bye,”

“Oppa! Aish,” Yongeun akhirnya masuk ke kamarnya. Sedangkan aku masih berfikir sendiri disini. Kenapa aku bisa-bisanya membela Seohyun bahkan sampai sekarang? Kenapa aku terus mempertahankan pendapatku bahwa ini bukan kesalahannya? Apa aku masih mengharapkannya? Hah andwae! Aku tidak boleh menyukainya. Tidak boleh!

- Jung Yongeun’s POV –

Kuhidupkan kembali handphoneku. Tiba-tiba saja bertubi-tubi pesan masuk, semuanya dari Jungshin. Isinya sama, “Kau kenapa?” atau “Yeobo, aku ingin bicara. Jangan membuatku menjadi bingung seperti ini?” dan pesan-pesan sejenis lainnya. Ku balas pesannya.

Jungshin, gomawo sudah membuat hari-hariku makin indah karenamu. Tapi Mianhae, hubungan kita harus berakhir sekarang! Jeongmal mianhae.

Sent. Dengan cepat ia membalasnya.

Jangan bercanda yeobo! Ya, kau kenapa??

Aku putuskan untuk tidur saja.

- Lee Jungshin’s POV –

Astaga. Hatiku sakit sekali menerima pesannya, apa maksud dari semua ini. Dia yang tiba-tiba berubah, datang kerumahku tapi tanpa tertawa sediktpun, dan sekarang PUTUS? Aigo, Yongeun-ah, salahku apa padamu?

Tok tok tok

Seseorang mengetuk pintu kamarku. “Ne, masuklah! Tidak dikunci!”

“Benarkah aku boleh masuk?” ternyata si brandal itu, cih apalagi ini. Sudah jam 11 malam, apa yang akan ia lakukan?

“Mau apa kau kemari?” tanyaku ketus. Dia menunduk dan menggigit bagian bawah bibirnya.

“Ya! Kalau hanya ingin mengangguku, lebih baik kau keluar!” seruku. Namun tiba-tiba saja dia berlutut dengan badan masih berada diluar pintu.

“Untuk malam ini, Jungshin. Jebal, jadikan aku sebagai hyung-mu untuk sebentar saja.”

Eh?

--TBC--

8 comments:

  1. yah cantik-cantik begitu ternyata. ga ada hati banget yang diomongin udah meninggal malah seneng.
    flashbacknya pas masih ada ibu mereka...
    penasaran beneran

    next chap

    ReplyDelete
  2. Hiks :'( Jahatnya Jonghyun dan Seohyun. Seohyun keliatannya innocent tapi ternyata hatinya busuk *dilempar sone*

    Kasian gara-gara ulah mereka jadi Yongeun juga yang kena imbasnya.

    Ok, ditunggu chapter selanjutnya.

    ReplyDelete
  3. aku baca ini tengah malam dan sumpah aku nangis bacanya. apalagi pas yg hongki nya dimobil itu sama yg seohyun - jonghyun nya itu. sumpah bikin aku nangis. daebak dah buat ica. lanjut ca. keren xD :)

    ReplyDelete
  4. kasiaaannnn my jungshiiinnnnn ... sabar Nak ntar eon bilang ke authornya biar kalian nggak putus ... ok ok

    ReplyDelete
  5. semuanya.. gomawo udah baca >< *bow*

    mpeb eonni: omoo~ aku hampir lupa flashback buat itu /gubrak
    hoho iyadeh eonni diusahain cepet ._. /selalubegini

    riri eonni: hehe gitu deh eonn,sebenernya aku yg jahat jadiin seohyun tokoh jahat disini >:D tapi ada baiknya juga kok dia entar :p

    syifa: masa si syif? ;_; ya ampun hoho gomawo yaa mian hongki nya dipairingin sembarangan =_=v

    kanti eonn: iya eonni bilang ke authornya supaya mereka gak putus u,u (??)

    ReplyDelete
  6. omo~
    ceritanya sedih tapi keren bgt...
    aq terharu ngebacax
    g' sabar nunggu lanjutanx

    ReplyDelete
  7. cnblue jd beda bgt y???? malh musuhan,,,tp cuma diff kan!!!!

    kasihan jungshin diputusin,,,sabar ye!!!!
    g disangaka seohyun bnr2 peri palsu,,,ampe bkin hongki sakit hati,,trus abanga jonghyun jd sosok yg mengerikan#apalah#

    penasaran bgt ma kelanjutan cerita'a,,,ditunggu chapter selanjut'a

    ReplyDelete

Cara komen (bagi yang kurang jelas):

1. Ketik komen kalian di kotak komentar.

2. Di samping 'Berikan komentar sebagai', klik Google (bagi yang menggunakan Blogspot) atau LiveJournal/Wordpress/AIM/TypePad/OpenID (bila kalian mempunyai akun disana)

3. Atau bagi yang tidak punya akun sama sekali / tidak mau ribet, klik NAME/URL (kosongkan URL bila tidak mau ditampilkan)

4. Klik 'Poskan komentar'