Saturday, May 28, 2011

Muffin Of Love [epilog]


Auhtor: kang hyeri [@mpebriar]

Length: chaptered 1197 words

Genre: romance, family

Rating: T

Cast:
  • Lee Jonghyun CNBLUE
  • Shin Jihyeon [fiktif]
  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Jung Iseul [fiktif]
  • Kang Minhyuk CNBLUE

Other Cast:
  • Kang Eunjin [fiktif]
  • Park Hanyoung [fiktif]
  • Lee Daehyun [fiktif]

Disclaimer : MY OWN PLOT



Aku mengemas barang-barangku ke dalam koper. Hanya pakaian-pakaian dan juga beberapa barang penting yang akan aku bawa ke Jepang. Koper super besar ini akan dikirim sehari setelah keberangkatanku meninggalkan Korea.

“Eomma!” sapaku begitu aku keluar dari kamar sambil menenteng tas lumayan besar yang berisi beberapa helai pakaian. Eomma menghampiriku dan kemudian memelukku.

“Kau sudah yakin?” tanya eomma dengan mata sayu.

Akupun mengangguk dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun.

“Eomma jangan khawatir. Aku pasti akan sering-sering menelpon eomma. Oh ya, aku sudah meminta tolong temanku untuk menggantikanku di toko. Dialah orang yang selama ini mengajariku cara membuat muffin di Jepang dulu.”

Eomma hanya mengangguk dan kemudian memelukku lagi.

“Lebih baik sekarang eomma istirahat. Eomma hanya butuh tidur agar sakit kepalanya hilang.”



Taksi yang kutumpangi berhenti di daerah Myeongdong. Aku memang meminta si supir untuk berhenti sebentar.

Akupun turun dari taksi dan berjalan sedikit ke salah satu tempat yang akan kukenang. Toko muffinku.

Hadiah ulang tahun dari eomma dua tahun yang lalu sekaligus tempat pertama kali aku bisa bicara dengan Jihyeon. Tempat kenanganku.



Aku meminta supir taksi untuk kembali menepi. Kali ini aku tidak turun, hanya memandangi danau yang cukup indah dari dalam taksi. Tempat pertama kali aku bertemu dengan Jihyeon. Tempat kenanganku.



Lagi-lagi aku meminta supir taksi untuk berhenti. Rumah Sakit Jenjju. Kali ini aku tidak meminta si supir untuk menunggu karena rasanya aku akan lama di dalam.

Kulangkahkan kakiku memasuki rumah sakit seraya menenteng tasku. Tidak banyak berubah, hanya beberapa dekorasi yang letaknya sudah berbeda. Sudah cukup lama aku tidak ke sini.

“Jonghyun?”

Suara yeoja memanggilku. Akupun berbalik dan mendapati Eunjin noona tanpa setelan putihnya.

“Noona? Sudah lama tidak berjumpa? Kau makin cantik!” godaku. Tapi memang kenyataan, Eunjin noona semakin cantik, hihihi.

“Haha, kau tidak lupa kan kalau aku sudah memiliki suami? Ini buktinya,” kata noona sambil menunjuk ke arah kereta dorong bayi yang ukurannya lumayan besar.

“Omo...” aku berjongkok agar bisa memandangi dua bayi mungil nan lucu itu. Menggemaskan.

“Yang satu tampan, yang satu cantik.”

Aku menyentuh kedua pipi merah bayi kembar ini. Mereka lucu-lucu sekali. Kedua telunjukku bermain di telapak tangan mungil mereka berdua dan mereka menggenggamnya erat. Sungguh menggemaskan.

“Annyeong, Jung Eunhwa, Jung Eunjoon, jeoneun Lee Jonghyun imnida. Panggil aku oppa dan hyung kalau begitu, aku belum terlalu tua untuk dipanggil ahjussi, kekeke.”

Ini memang pertama kalinya aku melihat bayi kembar ini, saat aku menjenguk noona pasca melahirkan, bayinya masih harus diletakkan di inkubator. Aku tidak tau kenapa, mungkin karena noona melahirkan saat usia kandungannya masih 8 bulan.

“Kau mau ke mana membawa tas sebesar itu?”

“Aku akan ke Jepang malam ini, aku akan kuliah di sana. Sebenarnya banyak barang-barang yang aku bawa, tapi eomma akan mengirimnya besok. Memang Minhyuk tidak cerita?”

“Cerita, sih! Tapi aku tidak tau kalau kau akan ke sana hari ini. Kalau begitu, ayo kita ngobrol-ngobrol di ruangan suamiku dulu.”

Noona menuntun jalanku menuju ruangan dokter Yonghwa.

TOK TOK!

“Masuklah!” sahut suara dari dalam. Noonapun membuka pintunya dan disambut dokter Yonghwa di pintu.

“Yeobo, akhirnya kau sampai!”

Dokter menghampiri noona lalu mengecup bibirnya sekilas.

“Ya, kau tidak lihat orang lain selain kita?” tanya noona.

“Cuma ada anak-anak kita, kenapa harus malu?”

Noona menggerakkan kepalanya ke arahku dan dokterpun sadar dengan keberadaanku.

“Jonghyun? Sudah lama kita tidak bertemu.”

“Iya. Apa kabar, dok?”

“Aku baik, kau sendiri?”

“Aku juga baik-baik saja.”

Kami bertigapun mengobrol cukup banyak. Sesekali menggendong Eunhwa dan Eunjoon secara bergantian. Rasanya aku ingin memiliki bayi sendiri.

Eunjin noona dan dr. Yonghwa menikah 11 bulan yang lalu dan kini mereka dikaruniai anak kembar yang masih berusia satu bulan lebih.

Oh ya, apa kabar Daehyun dan Hanyoung noona? Eunjin noona bercerita kalau sekarang mereka sedang studi banding di salah satu rumah sakit terbaik di Singapura. Sudah lama aku tidak bertemu mereka.

Dirasa sudah sore, akupun pamit undur diri pada mereka.

“Jonghyun-ah, saat ketemu Minhyuk, suruh di pulang sebentar ke sini. Kalau liburan kenaikan tingkat bulan depan dia tidak ke sini juga, jangan harap dia bisa bertemu keponakan-keponakannya.”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

Akupun keluar dari ruangan. Seharusnya aku belok kiri menuju pintu depan, tapi aku melangkahkan kakiku ke arah berlawanan. Aku memasuki lift dan memencet tombol angka delapan.

Ruangannya benar-benar sudah berbeda, ruangan rawat inap pada umumnya.

Nomu bogoshipo, Shin Jihyeon.



Hanya selang waktu lima belas menit dengan bus, aku sudah sampai di tujuanku yang terakhir. Aku terus berjalan dan berhenti tepat di depan makam Jihyeon.

“Annyeong!” kataku seraya meletakkan bunga di atas makamnya.

“Hampir sebulan aku tidak kemari, mianhae jagi.”

Apakah aku gila jika aku memanggilnya jagi?

“Aku ke sini untuk pamit padamu. Aku akan ke Jepang, aku tidak mau mengecewakan orang yang ku sayang lagi. Aku akan kuliah di sana satu tahun lalu melanjutkan kuliahku di sini tahun depan.”

“Oh ya, Eunjin noona dan dr. Yonghwa sudah memiliki anak, kembar pula. Sudah tau, ya? apa sudah ada yang memberitahumu? Yang jelas mereka lucu sekali. Aku ingin membawa salah satunya tapi aku harus melangkahi mayat ayahnya dulu, hahaha.”

Aku menghela nafas panjang.

“Andai kau masih hidup, mungkin kita bisa seperti mereka.”

Kenyataan berkata lain.

“Sudah dulu, ya! Tiga jam lagi pesawatku akan take off. Aku janji tahun depan akan ke sini. sampai jumpa, jagiya!”

Aku melambaikan tanganku pada gundukan tanah yang ditumbuhi rumput hijau tersebut.

Kakiku melangkah menuju dua gundukan tanah yang tidak jauh dari makam Jihyeon.

“Annyeong appa, annyeong Ryuna eomma!”

Aku meletakkan sebuket bunga di kedua makam mereka.

Appa meninggal tiga bulan yang lalu karena penyakit kronisnya yang tidak aku ketahui. Dan kini dia dimakamkan di samping makam ibuku, sesuai permintaannya.

“Mianhae, appa! Aku tidak ada di sisimu saat kau membutuhkanku. Aku sangat menyesal tidak bisa menemanimu hingga hembusan nafas terakhirmu. Jeongmal mianhae!”

Karena penyesalanku itu, aku akan menuruti kemauan appa. Aku akan kuliah bisnis di Jepang dan meneruskan usaha appa.

Mianhae!



Bagian informasi bandara telah mengumumkan kalau pesawat yang akan kutumpangi akan segera berangkat. Akupun bangkit dari dudukku.

“LEE JONGHYUN!!”

Seseorang berteriak memanggil namaku. Aku berbalik dan mendapati Iseul dengan rambut yang lumayan awut-awutan.

Aku berjalan menghampirinya dan tiba-tiba dia memelukku.

“Hati-hati!” katanya.

Tanganku meraih bahunya dan mendorong tubuhnya agar pelukannya terlepas. Bisa kulihat bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya. Akupun mengusapnya.

“Pabo! Rambutmu sampai berantakan begini,” kataku sambil merapihkan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.

“Jahat sekali tidak memberitahuku kalau kau akan pergi sekarang.”

“Mianhae, Iseul! Ini memang mendadak.”

Aku mulai terbiasa memanggil namanya. Ternyata Jihyeon dan eomma benar, dia tidak seburuk seperti yang aku bayangkan selama ini.

“Hati-hati, Jonghyun-ah! Kalau sudah sampai, jangan lupa menghubungiku.”

“kalau itu, aku tidak bisa janji, ya.”

Kulihat dia mengerucutkan bibirnya.

Aku masih suka bersikap acuh pada Iseul, tapi dia masih suka lengket padaku. Entah kenapa aku tidak menolak. Apa yang dimaksud Jihyeon adalah Iseul? Jihyeon menyuruhku peka pada orang-orang di sekitarku dan kalau dipikir-pikir, Iseul adalah orang yang Jihyeon maksud.

Apa aku harus membuka hatiku pada yeoja ini?

“Jonghyun? Jangan melamun! Nanti kau ketinggalan pesawat.”

Bibirku mulai menyunggingkan senyum tanpa diperintah, tanganku mengacak-acak poninya.

“Sampai jumpa, Iseul! Aku akan kembali tahun depan. Kau bisa menungguku satu tahun kan? Aku harap saat aku kembali, dihatimu masih ada aku.”

Aku tertawa melihat Iseul dengan mulutnya yang menganga dan matanya menatapku kosong. Wajahnya memerah. Dia tampak seperti orang bodoh. Aku suka.


Selamat tinggal! Ah tidak! Sampai jumpa, Korea!


-end-


9 comments:

  1. Wah, akhirnya ending juga. Tapi masih berasa sedih nya :')

    ReplyDelete
  2. huaaaaaaaaa bagus ff nya....sukaaaaa
    wah JH ma iseul nih jadinya hehehehe

    ReplyDelete
  3. cihuuuyyy see you nest year ? ... berarti ada lanjutan antara iseul dan jonghyun dunk :)

    ReplyDelete
  4. akhirnya ~~ ending jugaa ~~~~
    keereeeenn !! Epilognya sedih bangeet, ngingetin JongHyun ttg Jihyeon ~
    kalo JonghYun uda ngomong gitu ke Iseul, berarti ada sequelnya dong ~~~ #ngarep

    ReplyDelete
  5. endingny msh sdih jg .....
    jonghyun jd sn iseul y?
    bgs eon (y)

    ReplyDelete
  6. eunhwa? eunjoon? yaaa eonni menginspirasiku (?) btw btw eunjoon itu artinya eunjin-lee joon ya :p *yong bersin *eonni bersin

    masih berasa tuh sedihnya bagian di makam huwaa daebak deh eonni T--T

    aih lucu iseul sama jonghyun ><
    tapi kasian ya minhyuk :/

    kereen eonni kereeen :'O

    ReplyDelete
  7. @SEMUA:

    SEQUEL?????? yah doakan aja otak ini masih bisa berjalan dengan semestinya (?) kalo lagi banjir ide, insyaAllah aku lanjutin. kalo ya....
    gomawo sejauh ini udah setia baca ff terpanjangku ;p

    ReplyDelete
  8. iseul dan jonghyun LANJUTKAN....!!!

    ReplyDelete

Cara komen (bagi yang kurang jelas):

1. Ketik komen kalian di kotak komentar.

2. Di samping 'Berikan komentar sebagai', klik Google (bagi yang menggunakan Blogspot) atau LiveJournal/Wordpress/AIM/TypePad/OpenID (bila kalian mempunyai akun disana)

3. Atau bagi yang tidak punya akun sama sekali / tidak mau ribet, klik NAME/URL (kosongkan URL bila tidak mau ditampilkan)

4. Klik 'Poskan komentar'