Friday, February 11, 2011

MY LOVELY [chapter 3 - end]

Author : Kang Hyeri aka ny.Jung (@mpebriar)

Rating : PG15

Genre: Romance

Pemain:

Kang Minhyuk CNBLUE
Kim Taeyeon SNSD
Jung Yonghwa CNBLUE

Pemain pembantu:

Jung Hankyu (fiksi)
Seo Joohyun SNSD

Note: chapter 1 ,  chapter 2


Huahahahaha akhirnya selesai juga. Semoga aja chingudeul pada suka hehe. Mian lama, sibuk tugas + ujian. Betewe aku bikin nama Korea ku sendiri dong. Annyeong, chonun Kang Hyeri imnida.
Selamat membaca :))) Mian juga kalo ending nya ga sesuai harapan anda hehehe.





Taeyeon pov


“Saranghaeyo Kim Taeyeon. Ah cincinmu....sebentar, aku ambil dikamarku dulu.” kata Minhyuk.

Ah jinjja! Aku bahagiaaaaaaaaaaaa sekali. Sekarang tidak ada lagi yang akan mengganggu kami. Senangnya~

KRIIIIIIIIING! Ku lihat layar handphone ku, Yonghwa. Mau apa lagi dia menelpon. Aish~

“Yoboseyo?” kata yeoja diseberang telepon. Yeoja?

“Ye! Nuguseyo?”

“Apakah anda kekasih orang ini? Di kontaknya tertulis My Lovely?”

Orang ini? Siapa sih? Jadi bingung.

“Aku.... pokoknya aku mengenalnya. Nuguseyo?”

“Aku menemukan orang ini pingsan di trotoar jalan.”

Mwo? Pingsan? Pantas saja tadi mukanya pucat sekali.

“Orang-orang akan membawanya ke rumah sakit...” akupun mendengarkan dengan seksama alamat rumah sakitnya.

“Noona, ini mil..... noona, gwaenchana? Siapa yang telpon?” tanya Minhyuk yang sepertinya khawatir padaku.

“Yonghwa......” aku tidak bisa berkata-kata.

“Hyung? Kenapa dengan dia noona?” nada bicaranya jadi santai.

Lidahku kaku, sulit bicara.

“Hyung kenapa noona?” dia mengguncang pelan tubuhku.

“Orang-orang menemukan dia pingsan di jalan.”



Dokter masih memeriksa keadaan Yonghwa. Wajahnya kini sungguh pucat pasi. Kau kenapa Yonghwa? Aku tidak pernah melihat keadaanmu yang seperti ini.

Dokter akhirnya keluar.

“Siapa keluarganya?”

Reflek aku yang menjawab.

“Aku is........” Astaga, kenapa aku mau menjawab itu?

“Aku mantan istrinya.”

“Ada hal penting yang harus dibicarakan.”



“MWO~? Leukimia?”

Yonghwa mengidap penyakit separah ini?

“Ye! Mantan suami anda mengidap penyakit kanker darah atau lebih dikenal dengan istilah leukimia, yaitu penyakit dalam klasifikasi kanker pada darah atau sumsum tulang belakang yang ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau......” Dokter terus mengoceh sedangkan aku masih shock setelah mengetahui kabar Yonghwa yang sebenarnya.

“Untunglah Tuan Jung dibawa kemari. Karena kami telah menanganinya sebelumnya.”

“Menangani? Maksudnya?”

“Kau tidak tau sama sekali nyonya?”

Akupun menggeleng.

“Dua tahun lalu dia datang kemari untuk memeriksakan diri. Dia merasa mengalami gejala yang sangat aneh. Apa anda tidak menyadarinya?”

Dua tahun yang lalu?

“Ne! Dia sering lelah, sakit kepala, dan keringat malam. Katanya itu karena dia terlalu sibuk bekerja. Apa itu gejalanya dok?”

“Lebih tepatnya diantara dari gejala-gejala. Dia pernah mengeluh mudah berdarah dan lebam, ada pembengkakan di leher, dan ada bercak keunguan di kulitnya. Kamipun menyarankan dia untuk rawat inap di sini.”

Rawat inap? Apa Yonghwa dulu jarang sekali pulang karena.....

“Tuan Jung telah menjalani kemoterapi selama berbulan-bulan. Namun tidak membuahkan hasil. Kamipun menyarankannya untuk menjalani operasi pencangkokan sumsum tulang belakang di Singapura....”

“Singapura?”

“Ye! Diapun berangkat ke sana sekitar satu setengah tahun yang lalu. Sementara mencari pendonor sumsum tulang belakang yang cocok untuk Tuan Jung, dia harus tinggal di rumah sakit dan.....” ucapan dokter selanjutnya serasa masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Rasanya seperti ada batu besar yang menimpaku. Jadi selama ini dia menyembunyikan semuanya dariku? Separah itukah penyakitnya? Tega sekali kau tidak memberitahuku, Yong. Aku kan....istrimu.



Yonghwa, mantan suamiku, kini terbaring lemah di tempat tidur. Dia harus dirawat di rumah sakit. Ini sudah hari kedua Yonghwa tidak membuka matanya. Padahal Kyu dari tadi berusaha membangunkannya. Yang dia tau, ayahnya hanya sedang tertidur lelap.

“Appa capek ya? Bangun dong. Kyu mau main sama appa.” Kyu terus mengguncang tubuh Yonghwa, tapi tetap tidak ada reaksi. Bangun Yong....

“Kyu. Appa mu sedang tidur. Jangan diganggu terus dong. Ayo sini main sama aku.”

Minhyuk kini mengambil alih Kyu. Dia menggendong Kyu di punggungnya. “Kau mau main apa Kyu?”

“Hmmm main ayunan,” Kyu menunjuk ke arah jendela, lebih tepatnya luar jendela.

“Oke bos. Kajja!” Minhyuk dan Kyu pun pergi.

Kini mataku hanya terpaku pada namja yang terpaku di depanku. Kutatap wajahnya yang tampan lekat-lekat. Dia tidak berubah, hanya saja lebih kurus. Ah ani! Sangat kurus. Ingin sekali aku menyentuh wajahnya tapi rasanya ada yang membisikkanku untuk tidak melakukannya.

TOKTOK!

Seorang yeoja masuk. Dia...

“Annyeonghaseyo Taeyeon-shi. Lama tidak berjumpa,” yeoja itu membungkukan badannya padaku. Karena aku masih mempunyai rasa hormat, akupun membalasnya.

“Kau...? Ada urusan apa ke sini?” tanyaku agak ketus. Bangaimana tidak, dia yang membuat hubunganku hancur dengan Yong.

“Eommaku bilang oppa dirawat.” Mendengar yeoja itu memanggilnya oppa, rasanya kupingku sakit sekali.

“Seperti yang kau lihat. Baiklah, sebaiknya aku keluar. Aku tidak mau mengganggu kalian.”

Baru berjalan selangkah menuju pintu, dia mencegah.

“Tunggu dulu. Aku ingin memberitahumu sesuatu.”

Dia menggiringku ke suatu tempat. Sebuah taman indah di rumah sakit ini. Dari sini aku bisa melihat Minhyuk dan Kyu yang sedang tenggelam dalam tawa mereka. Minhyuk-ah.. melihatmu membuat hatiku tenteram. Hanya dengan bersamamu aku bisa melupakan semua masalahku.

“Taeyeon-shi, mianhae...”

“Untuk apa?”

“Gara-gara aku hubunganmu dengan oppa jadi retak. Jeongmal mianhae,” katanya lirih.

Aku menatap yeoja itu. Di saku kemejanya bertuliskan Seo Joo Hyun. Jadi itu namanya. Selama ini aku tidak mengetahui namanya.

“Sudahlah! Aku sudah melupakannya. Bagaimanapun itu masa lalu. Lagipula kau dan dia....”

“... aku dan oppa sebenarnya tidak ada hubungan seperti yang kau kira.”

Hah??

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Yonghwa oppa itu sepupuku. Ibuku dan ayahnya bersaudara. Sewaktu pernikahan kalian dulu, aku berada di Jepang dan baru kembali satu setengah tahun yang lalu. jelas kau tidak mengenaliku. Dan keadaan ini dimanfaatkan oppa. Dia meminta aku berbohong padamu soal...”

“...soal hubunganmu dengan Yong?”

Dia mengangguk.

“Oppa tidak ingin kau tau tentang penyakitnya dan tidak ingin kau ikut menderita. Itulah sebabnya dia meminta berpisah denganmu. Bukan karena dia tidak mencintaimu lagi, dia bahkan sangat sangat sangat mencintaimu. Namun kami tidak mengira kalau penyakit itu datang kembali.”

“Ma...maksudmu datang kembali apa? Jadi Yonghwa dulu....”

“Ne~ ini penyakit lama oppa. Saat dia kecil, setelah menjalani operasi pencangkokan, dokter menyatakan kalo oppa sudah sembuh. Namun kami tidak menyangka kalau penyakit itu akan datang lagi. Dokter bilang kali ini sudah sangat parah sekali. Kemungkian untuk sembuhpun tipis. Setelah menjalani operasi untuk kedua kalinya di Singapura, dokter menyatakan kalau oppa sudah tidak bisa disembuhkan. Kami hanya bisa pasrah, tidak tahu kapan Tuhan akan mengambilnya.”

Aku dapat melihat air matanya yang mengalir di pipinya. Aku tidak menyadari kalau aku menangis juga.

“Sambil menunggu hari itu datang, oppa ingin sekali melakukan sesuatu sebelum dia pergi dari dunia. Dia ingin menemui kau dan anak kalian Kyu.”

Aku tidak tau apa-apa mengenai itu. Yonghwa tidak pernah menceritakannya. Yang aku tau dia adalah namja yang kuat. Aku tidak menyangka ternyata dia selemah itu.

“Eomma~!!!”

“Yeobo~!!!”

Teriak Kyu dan Minhyuk dari kejauhan. Aish, apa-apan Minhyuk itu.

“Yeobo? Kau dan Minhyuk...”

Akupun tersenyum menanggapinya. Tapi bagaimana dia tau Minhyuk?

“Kau mengenali Minhyuk?”

“Sewaktu kecil aku tinggal bersama keluarga oppa. Dia tetanggaku dulu. Kami sering bermain bersama. Lalu bagaimana kau bisa kenal Minhyuk?”

Akupun menjelaskan semuanya pada Seohyun.

Lalu kulihat Kyu dan Minhyuk datang menghampiri kami.

“Seohyun noona? Apa kabar? Lama tidak berjumpa.”

“Aku baik-baik saja Minhyukie. Bagaimana dengan kau? Ah ini pasti Kyu si tampan yang selalu oppa ceritakan.” Seohyun mengacak-acak rambut Kyu.

“Aku baik-baik saja noona.”

“Hyung, aku ngantuk...” kata Kyu sambil mengucek-ucek matanya.

“Hmm yeobo, aku akan mengantar Kyu pulang, nanti aku balik lagi.”

PLETAK!

“Nanti aku balik lagi noona.” Minhyuk mengusap-usap kepalanya. Sekali lagi dia memanggilku yeobo, awas saja.

“Baiklah. Jaga Kyu baik-baik.”

Minhyuk dan Kyu pun pergi.

“Sebaiknya aku juga pamit. Masih ada urusan yang harus aku kerjakan. Annyeong Taeyeon-shi, sampai jumpa.”

Dan kini yeoja itu juga ikut pergi. Sebaiknya aku kembali ke kamar Yong.

Namun cerita yeoja tadi masih terngiang di pikiranku.

KLEK! Kubuka pintu kamarnya.

Kaget bercampur senang begitu melihat Yonghwa sudah siuman. Tubuhnya dia sandarkan ke dinding.

“Kau sudah sadar Yong?”

“Kalau melihatku begini, apa aku belum siuman?”

Aku hanya menanggapinya dengan tawa kecil.

“Duduk sini.” Yong menepuk sisi tempat tidurnya.

“Kau sudah baikan?” tanyaku.

“Sepertinya tidak akan pernah baik,” jawabnya dengan senyuman.

“Yong....”

“Dokter dan Seohyun pasti sudah menceritakan semuanya. Tidak ada yang perlu aku jelaskan lagi padamu.”

“Tapi kenapa harus begitu Yong? Aku kan masih istrimu...saat itu.”

“Aku tidak ingin melibatkanmu Tae-ya. Aku tidak ingin membuatmu sedih. Soal penyakit ini, biar aku saja yang merasakannya. Aku tidak mau melihatmu sedih karena ini.”

“Tapi kau malah membuatku makin sedih Yong. Kau tidak menganggapku sebagai seorang istri. Aku berhak tau akan hal ini. Aku ini istrimu Yong.. aku pasti akan menerima apapun keadaanmu karena aku mencintaimu.”

“Tae-ya, kau... masih mencintaiku?”

Aish, dia salah tangkap. Tapi aku harus jujur padanya.

“Saranghaeyo. walaupun aku juga sangat mencintai Minhyuk, rasa cintaku padamu tidak bisa hilang. Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana Yong?” kataku terisak.

Yonghwa meraih pundakku dan menarikku ke dalam pelukannya.

“Kau berkata begitu bukan karena kasihan padaku kan?”

“Tidak, Yong. Aku berkata begini setelah aku tau kau selalu mencintaiku.”

Pelukannya kini semakin erat.



Sekitar dua jam aku ngobrol banyak dengan Yonghwa. Rasanya baru kemarin aku bercengkrama dengannya. Aku bahkan lupa kalau aku telah bercerai dengan Yong. Aku merindukan saat-saat ini. Tolong Tuhan, jangan ambil dia.

Kini dia tertidur lelap. Raut mukanya tidak seperti orang yang sedang mengidap suatu penyakit yang parah. Raut muka bahagia. Akupun memberanikan diri mengecup pipinya.

“Saranghaeyo” bisikku di telinganya.

Ah, apa yang aku katakan tadi? Aku masih bingung pada perasaanku. Aku sangat mencintai Minhyuk tapi aku juga sangat mencintai Yonghwa. AISH~ ku jenggut rambutku, berharap menemui solusi yang tepat untuk perasaanku.

KRRRRRRK! Perutku berbunyi. Aku lupa dari pagi aku belum makan. Sudah jam 3 sore. Sebaiknya aku mencari makan sebelum maag ku kambuh.

KLEK!

Saat aku keluar dari kamar Yong, aku melihat sesosok namja terpaku dengan kepala menunduk di depan kamar.

“Seohyun noona menawarkan diri untuk mengantar Kyu pulang tadi. Jadi aku langsung ke sini. Tapi aku tidak enak mengganggu kalian, jadi aku menunggu di sini.” Senyum Minhyuk tersungging, aku tau itu senyum yang dipaksakan.

“Minhyuk...”

“Aku sudah mendengar bagaimana keadaan hyung dari dokter. Aku tidak menyangka dia akan begitu lagi. Dulu sewaktu kecil, aku selalu menangis melihat hyung menahan rasa sakitnya. Rasanya aku ingin ikut merasakannya agar hyung tidak menderita sendirian.”

Nada suaranya bergetar, dia menangis. Dia buru-buru menghapus air matanya. Lalu dia meraih dan menepuk pundakku.

“Kau harus bisa membahagiakan hyung, noona. Kalau tidak, aku pasti akan membencimu.”

Minhyuk berbalik badan dan pergi meninggalkanku. Minhyuk, jangan pergi....

“Minhyuk-ah!” aku memanggilnya. Namun dia tidak menengok, hanya melambaikan tangannya seraya berjalan menjauh.

Air mata kini mengalir lagi. Aku jadi merasa bersalah pada Minhyuk. Aku yakin sekali Minhyuk mendengar semuanya. Mianhae Kang Minhyuk.

Dua namja yang kucintai... ah, aku bingung harus bagaimana.

Nafsu makanku sudah hilang. Kakiku membawaku menuju kamar Yong.

KLEK!

Lagi-lagi aku dibuat kaget. Sosok Yonghwa muncul begitu aku membuka pintu.

“Yonghwa..kau...”

“Kau mencintai Minhyuk, Tae-ya?” tanya Yong tiba-tiba.

“Mwo? Aku...aku....”

Yonghwa mengusap air mataku.

“Kau menangis karena dia kan?” Aku tidak menjawab

Yonghwa lalu mendorongku pelan.

“Pergilah, susul dia. Sebaiknya kau utarakan perasaanmu yang sebenarnya,” katanya dengan senyum yang tidak pernah aku lihat selama ini, senyuman terbaiknya.

“Tapi...”

“...Anggap saja ini permintaanku yang terakhir. Aku menemuimu karena ingin melihat kau dan Kyu bahagia.”



Minhyuk pov


Aku mengerti noona. Mana mungkin rasa cintamu pada hyung bisa luntur. Bagaimanapun kalian pernah saling mencintai dan rasa itu tidak akan pernah bisa dilupakan.

Aku akan mengalah hyung. Aku sangat sayang sekali pada kalian berdua. Akan aku lakukan apa saja asal kalian berdua bahagia, termasuk merelakan yeoja yang sangat amat aku cintai.

Kupandangi dua cincin permata yang sedari tadi aku genggam. Tadinya aku berniat melamat noona dengan cincin ini. Tapi rasanya sudah tidak mungkin lagi. Lebih baik cincin ini aku simpan. Kenanganku yang sangat berharga.

KRIIIIIIIIIIIING!

“Yoboseyo?”

“Minhyuk-ah!! Kau dimana sekarang?”

Telpon dari noona.

“Aku? Aku sedang berada di rumah teman. Ada tugas kuliah yang harus aku kerjakan.”

“Sejak kapan taman disebut rumah?”

Suara itu tidak berasal dari telepon lagi. Suara yang berasal dari belakangku.

“Noona? Bagaimana kau tau aku ada di sini?”

“Entahlah! Intuisi ku menuntunku ke sini. Dan ternyata benar.”

Noona duduk di sampingku. Bangku taman ini tempat kenangan kami. Tempat pertama kalinya aku mengutarakan perasaanku pada noona.

“Hmm apa itu di tanganmu?”

Noona melihat kotak kecil merah yang sedang aku genggam. Aku berusaha menyembunyikannya.

“Ini...ini bukan apa-apa kok. Cuma kotak kosong,” kilahku. “Kenapa noona menyusulku?”

“Wae? Kau tidak suka?”

“Hah? Aniyo. Kau seharusnya menemani hyung.”

“Kalau aku maunya menemanimu, bagaimana?”

Aku menoleh ke arah noona. “Mwo?”

“Minhyuk-ah~ Aku memang mencintai Yonghwa, tapi rasanya sudah berbeda dengan yang dulu. Aku memang egois, tidak memikirkan perasaan hyung mu. Tapi aku juga mencintaimu. Nomu saranghaeyo. Kalau kau membenciku ya si...”

Aku sudah tau ke arah mana noona akan bicara. Buru-buru aku memeluknya.

“Cukup noona. Jangan diteruskan.”

“Minhyuk...”

“Kajja! Kita harus ke tempat hyung.”



4 Tahun Kemudian 



Author pov 

“Kyu~ Cepat! Sebentar lagi acaranya akan dimulai.”

“YE, EOMMA~,” teriak Kyu dari kamarnya.

“Eomma tunggu di mobil. Palli!” kata Taeyeon yang tidak kalah lantangnya.

Taeyeon berjalan ke arah mobil lalu menghidupkan mesinnya. Kyu berlari dan segera masuk ke dalam mobil. Mobilpun melaju ke suatu tempat.

“Bajuku pantas tidak?”

“Pantas sekali. Kau sangat tampan,” Taeyeon tersenyum.

“Eomma juga, sangat sangat cantik,” Kyu ikut tersenyum. Senyum yang sama dengan orang itu. Juga makin pintar memuji. Makin lama kau makin mirip ayahmu Kyu, batin Taeyeon.

“Eomma, aku sudah bisa menghitung perkalian lho.”

“Jinjja?”

“Ne~ tapi cuma sampai perkalian dua.”

“Tidak apa-apa. Nanti juga bisa kok asal Kyu serius belajar. Nah, coba hitung angka satu sampai sepuluh dikalikan dua,” pinta Taeyeon.

“Satu kali dua sama dengan dua, dua kali dua sama dengan empat, tiga kali dua sama dengan...,” Kyu terus menghitung.

Tiba-tiba Taeyeon menghentikan mobilnya di suatu tempat, gedung yang menjulang tinggi.

“Kyu tunggu di sini. Eomma cuma pergi sebentar. Ada berkas eomma yang tertinggal.”

“Oke~” Kyu mengacungkan jempolnya dan Taeyeon pun pergi.

Tiga tahun yang lalu Taeyeon melamar kerja di sebuah perusahaan asing besar. Melihat nilai-nilai Taeyeon semasa kuliah dulu, dengan nilai yang hampir cum laude, Taeyeon diterima sebagai konsultan di perusahaan tersebut dengan gaji yang cukup menggiurkan.

Lima belas menit kemudian Taeyeon kembali.

“Kata eomma enggak lama~” Kyu cemberut.

“Mianhae, Kyu. Tadi eomma ketemu Lee ahjumma. Nih, dia memberimu ini.” Taeyeon memberi sebatang coklat besar ke Kyu.

“Ahjumma tau saja cara menyogokku.”

Mobil kembai dilajukan. Kini ke tempat yang benar-benar dituju. “Eomma, masih jauh tidak?”

“Tidak kok, dikit lagi. Nah... kau lihat gedung itu. Itu tempatnya,” kata Taeyeon seraya menujuk ke arah gedung aula yang besar. Taeyeon memarkirkan mobilnya.

“Ayo eomma. Kayaknya kita telat. Ayo, ayo~” Kyu menarik-narik tangan Taeyeon. “Iya Kyu, sabar.”

Mereka memasuki aula yang dipenuhi ratusan orang. Taeyeon mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan menghubungi seseorang.

“Ye. Aku sudah sampai ahjumma.... dimana?” Taeyeon melihat orang yang dikenalnya sekaligus orang yang dia hubungi sekarang, “Aku melihatmu. Aku segera ke sana.” Taeyeon memutuskan sambungan dan menghampiri orang itu.

“Maaf aku telat.”

“Tidak kok. Baru sesi pidato. Tidak penting. Ayo duduk,” kata Kang ahjumma sambil menawarkan dua tempat duduk yang sudah seharusnya menjadi tempat duduk Taeyeon dan Kyu. “Kyu~ sini duduk di sampingku,” pinta Kang ahjumma.

“Ahjussi mana?”

“Pesawat yang dia naiki dari Jepang terpaksa di delay tadi pagi karena badai salju. Pesawatnya akan sampai di Incheon dua jam lagi.”

“Hmm, sayang sekali, padahal ini momen sangat penting.”

Pidato berlangsung selama dua puluh menit dan akhirnya tiba pada acara puncak. Ahjussi itu memanggil nama satu persatu dan yang merasa terpanggilpun dengan memakai jubah dan topi yang sama, maju ke atas podium diiringi tepuk tangan. Dan...

“Kang Minhyuk!”

Riuh tepuk tangan mengiringi jalan Minhyuk menuju podium.

“Kang Minhyuk. Selamat! Kau lulus dengan predikat cumlaude,” kata ahjussi yang tadi berpidato yang ternyata adalah seorang rektor di universitas tempat Minhyuk belajar

Tepuk tangan kembali bergemuruh. Rektor itu memutar tali topi wisudanya serta memberikan toga dan sebuah map ke Minhyuk. Minhyuk pun menerimanya dengan rasa bangga. [aduh mian, author ga ngerti wisuda-wisudaan ala mahasiswa, hehe. Cuma ngerti wisuda jaman SMA doang *curhat]

Taeyeon tidak mau ketinggalkan momen ini. Dia sibuk memotret Minhyuk dengan DSLR nya.



“YEOBO~” teriak Minhyuk dari arah kejauhan. Orang-orang melihatnya dan tertawa. Minhyuk tidak menghiraukannya, dia terus berjalan ke arah Taeyeon dan Kyu. Aish, anak ini, bathin Taeyeon. Begitu Minhyuk sudah di depan Taeyeon, Taeyeon menginjak kaki Minhyuk keras-keras.

“AWWW~” Minhyuk meringis kesakitan.

“Rasakan itu!”

“Aduh, noona. Kira-kira dong. Hak sepatumu itu tajam sekali. Aish! Kyu, eomma mu jahat sekali padaku.”

“Hahahaha. Hyung sih teriak-teriak kayak orang gila,” Kyu terkekeh.

“Ya! Sudah kubilang kan panggil aku appa?!”

“Tidak mau. Kau bukan ayahku, kau bahkan belum menikahi eomma.” Mendengar Kyu bicara begitu, Taeyeon dan Minhyuk jadi salah tingkah.

Taeyeon pun berusaha mengalihkan pembicaraan, “Mana ahjumma?”

“Eomma harus pergi ke bandara, ternyata pesawat appa sudah landing.”

“Oh~”

“Kajja~”

“Lho, kemana?”

“Kita harus mengunjunginya. Aku ingin memberitahunya kalau aku kini sudah lulus.” Taeyeon dan Kyu yang mengerti siapa yang dimaksud hanya menurut.

Taeyeon menggiring Minhyuk dan Kyu ke tempat dia memarkir mobil. “Biar aku saja yang menyetir, noona.”

Mobil melaju dengan kecepatan standar. Selama diperjalanan, mereka terus bercerita. Tak hentinya Taeyeon dan Minhyuk tertawa begitu mendengar Kyu bercerita tentang hari-hari sialnya di sekolah. Dan tak terasa mereka sampai di tempat yang dituju.

“Kita sudah sampai~” kata Minhyuk.

Taeyeon menghirup udara dalam-dalam. Tempat yang sunyi senyap namun hijau dan asri. Banyak gundukan tanah berumput hijau yang tertata rapi.

“Ayo, ayo. Appa ada di sana.”

Mereka berjalan melewati gundukan-gundukan tanah tersebut dan sampai di gundukan tanah yang sangat terawat. Mereka bertiga memang selalu mengunjungi dan merawatnya bersama selama dua bulan sekali.

“Appa, kami datang lagi.”

“Annyeong, Yong. Tebak hari ini hari apa?”

“Hari kelulusanku, hehehe!”



Flashback 

“Minhyuk...”

“Kajja! Kita harus ke tempat hyung.”

Taeyeon dan Minhyuk pergi bersama ke rumah sakit tempat Yonghwa di rawat. Berusaha menjelaskan sesuatu. Namun sesampainya di kamar inap, mereka tidak melihat sosok Yonghwa.

“Hmm sus, kau tahu pasien di kamar ini kemana?” tanya Taeyeon pad suster yang kebetulan lewat.

“Pasien di bawa ke ruang ICU, dia tiba-tiba drop.”

Mendengar kabar tersebut, keseimbangan Taeyeon mulai hilang. Untung saja ada Minhyuk yang berhasil menangkapnya. Minhyuk memapah tubuh Taeyeon berjalan menuju ruang ICU. Sesampainya di sana, seorang dokter keluar dengan raut muka yang sangat tidak ingin Minhyuk dan Taeyeon lihat.

“Dok, hyung bagaimana? Sudah baikan, kan?”

Dokter hanya diam saja.

“Dok, jawab,” kata Taeyeon lirih. Air matanya jatuh dengan deras.

“Mianhae. Jeongmal mianhae. Hidup Jung Yonghwa memang hanya sampai di sini.”

Flashback end 



Mereka bertiga duduk-duduk dan ngobrol di samping makam Yonghwa sambil menikmati indahnya alam hijau.

“Hmm noona?”

“Ne?”

“Kau masih ingat kotak kecil merah yang aku miliki?”

“Hah? Yang mana?”

“Aigoo~ Masa lupa. Itu lho, kotak kosong yang pernah kau lihat empat tahun yang lalu.”

“Oh kotak kosong itu. Babo, mana mungkin aku mengingatnya, itu sudah lama sekali.” Begitu Taeyeon melihat wajah serius Minhyuk, dia menyadari kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda. “Mianhae. Lalu kenapa?”

Minhyuk merogoh kantong jas nya dan mengeluarkan kotak merah yang sama dengan kotak merah pada empat tahun yang lalu.

“Ini untukmu.”

Taeyeon meraihnya dan membukanya. “Omo~ nomu yeppo. Untuk siapa?” tanya Taeyeon polos.

“Untuk yeoja yang aku temui kemarin,” jawab Minhyuk gemas. “Ya untuk kau lah noona.”

“JEONGMAL?????”

Minhyuk berdiri, diikuti Taeyeon. Dan tiba-tiba Minhyuk berlutut dengan satu kaki di depan Taeyeon. Dia menengadahkan tangan kanannya.

“Kim Taeyeon, would you marry me?”

Taeyeon yang kaget bercampur senang, bingung harus menjawab apa.

“Minhyuk-ah, apa-apaan sih kau? Malu ditempat seperti ini.”

“Wae? Kan sepi. Lagipula aku ingin hyung menyaksikan kita. Dia pasti bahagia.”

“Minhyuk-ah...” Taeyeon benar-benar speechless sekarang.

“Oke, ku ulangi sekali lagi. Kim Taeyeon, maukah kau menikah denganku?”

Noona menyambut tangan Minhyuk. “Ye! Aku bersedia Kang Minhyuk.”

Minhyuk berdiri dan segera memeluk calon istrinya. Namun saat Minhyuk ingin mencium Taeyeon...

“Ya! Aku di sini lho. Appa dan eomma ga lupa aku kan?” kata Kyu polos.

Minhyuk yang mendengar Kyu memanggilnya appa, sontak berjalan ke arah Kyu.

“Kau bilang apa tadi, Kyu?”

“Kang Hankyu tidak ingat tadi bilang apaan, hehehe.”

“Awas kau ya!” Minhyuk menggelitik Kyu. Mereka larut dalam tawa mereka.

Dan tanpa sepengetahuan mereka, ternyata sejak tadi sesosok namja tampan berambut coklat sedang mengamati mereka.

“Akhirnya aku bisa pergi dengan tenang. Berbahagialah kalian.”

Namja berpakaian serba putih itu pun menghilang, dibarengi dengan hembusan angin yang hangat. Dan entah kenapa mereka bertiga jadi merasa kalau Yonghwa juga ada bersama mereka.

Taeyeon dan Minhyuk pun teringat akan pesan singkat yang mereka terima sehari setelah kematian Yonghwa yang mereka terima dari Seohyun.

To: Kim Taeyeon dan Kang Minhyuk


Kalau kau membaca pesan ini, mungkin aku sudah tiada..
Aku harap kalian akan selalu bersama selamanya. Itulah satu-satunya jalan agar aku bisa tenang meninggalkan dunia ini.


Saranghae


Jung Yonghwa


-END-

6 comments:

  1. yong oppa akhirnya meninggal T.T
    itu tulus amat yak yang saling ngerelain itu, yong ngebiarin taeyeon dengan minhyuk eh minhyuknya ngerelain taeyeon dengan yong T.T

    kyu nya udah besar kan ya? *ngebayangin cakepnya anak yonghwa*/plak

    bagus endingnya eonn ._.

    ReplyDelete
  2. sukaaaaaaaaaaaaaaaaaa ceritanya.....sedih tapi suka suka suka hehehe

    ReplyDelete
  3. Haduuuhh .. hikss hikkss *jadi kayak lihat cermin nih* ..
    suami istri /pasangan berpacaran (yg saling mencintai) selalu ingin menjaga perasaan pasangan agar tidak ikut sedih atau susah jika diri sendiri mendapat kesusahan .. inginnya pasangan kita selalu bahagia saja :)
    tapi (kadang) sifat seperti itu dapat melukai pasangan,
    seperti kata Taeyeon .. " apa aku tidak dianggap sebagai istri ?"

    ff ini bagus banget ... *bikin lagi ya @mpeb*

    ReplyDelete
  4. @caica : begitulah minhyuk (?) Kyu nya umur 7 taunan. eits gaboleh, dia cadanganku nanti huahahaha.

    @sarah: suka ff nya apa suka minhyuknya nih? pilih salah satu. awas klo milih yg kedua

    @eonni: huaaa komen mu menyentuh. curhat ya on kekekekeke

    ReplyDelete
  5. amazing story!!! keren banget walau akhirnya taeyeon nggak jd sama yong :s tapi bagus kok^^

    ReplyDelete

Cara komen (bagi yang kurang jelas):

1. Ketik komen kalian di kotak komentar.

2. Di samping 'Berikan komentar sebagai', klik Google (bagi yang menggunakan Blogspot) atau LiveJournal/Wordpress/AIM/TypePad/OpenID (bila kalian mempunyai akun disana)

3. Atau bagi yang tidak punya akun sama sekali / tidak mau ribet, klik NAME/URL (kosongkan URL bila tidak mau ditampilkan)

4. Klik 'Poskan komentar'