Sunday, January 9, 2011

MY LOVELY [chapter 1]

Author: ny.Jung (@mpebriar)

Rating: PG-15

Genre: Romance

Pemeran:
  • Kang Min Hyuk (CNBLLUE)
  • Kim Tae Yeon (SNSD)
            Pemeran pembantu:
  • Jung Han Kyu (karangan)
  • Ryu Hyo Young (CO.ED School)

Note: ff ini aku bikin bersambung , rencananya sampe 2 aja. tapi liat entar deh. kasi pendapat ya chingu :))) kalo responnya bagus aku terusin ;p mian ya kalo gaje




Sudah satu tahun aku membuka toko bunga tepat di depan rumahku. Aku senang, karena aku memang menyukai bunga. Sangat.
“Annyeong noona!” Inilah pelanggan setiaku.
“Minhyuk-ah! Lagi-lagi kau datang.”
“Waeyo? Aku datang kan untuk membeli. Harusnya kau senang noona.”
“Lalu bunga itu mau kau kemanakan? Kau buang lagi di depan pintu rumahku seperti biasanya?”
“Aigoo~ aku tidak membuangnya. Itu memang untukmu.”
Dialah Kang Min Hyuk,  murid kelas 3 SMA, keluarganya pindah kesini sekitar setengah tahun yang lalu. Sejak saat itu dia selalu datang ke toko bungaku. Aku tidak mengerti maksudnya. Setiap aku tanya mengapa, dia pasti menjawab: “Karena aku ingin melakukannya.” Dasar anak kecil.
“Mana Hankyu? Aku ingin mengajaknya bermain ke taman.”
“Dia ada di dalam...” belum selesai aku bicara, Minhyuk sudah masuk ke rumah.
“Ya! Dia sedang tidur.”
Aisssh! Dia tidak segan-segan membangunkannya.

                Kemana perginya mereka? Hari sudah mulai gelap. Kau culik anakku kemana babo?!
                “Eomma~!” panggil seorang bocah kecil.
                “Kyu~” aku pun menyambutnya.
                “Lihatlah,” dia menyodorkanku sekantong permen kapas, “Hyung membelikan aku ini. Ayo kita makan cama-cama.” Aku tersenyum setiap mendengar bocah 3 tahun ini bicara.
                “Babo! Lagi-lagi kau belikan anakku yang manis-manis. Kau tidak lihat giginya yang mulai menghitam?” bisikku pada Minhyuk seraya menyikut lengannya.
                “Dia kan masih anak kecil. Wajar saja noona.”
Tiba-tiba anakku menarik-narik bajuku. Aku berjongkok, menyetarainya
                “Ada apa Kyu?”
                “Hyung menyuluhku memanggilnya appa. Apa boleh?”
Baru saja aku mau memukul Minhyuk, dia sudah menghilang entah kemana. Awas kau babo!

                Huaaaaaaaah.... Cuaca yang indah untuk mengawali hari yang indah. Pagi-pagi sekali tadi Kyu membangunkanku dan merengek memintaku mengajaknya ke kebun binatang. Yah, apa boleh buat. Aku memang jarang mengajaknya jalan-jalan.
                “Eomma, ayo kita pelgi cekalang. Ayo, ayo!”
                “Iya Kyu. Eomma harus dandan dulu.”
                “Eomma udah cantik kok.” Ternyata dia pandai memuji, sama seperti ayahnya. Ah, apa yang kupikirkan. Lupakan dia Taeyeon, lupakan.
                Kami sudah siap. Namun, saat melewati rumah Minhyuk menuju halte bus, Kyu tiba-tiba berubah pikiran.
                “Eomma~ Aku ingin main cama hyung.”
                “Kau bilang ingin ke kebun binatang?”
                “Ajak hyung, ajak hyung.” Kyu terus merengek.
                “Kyu, Minhyuk sedang sibuk. Sebentar lagi dia ada ujian.”
                “Ya! Siapa bilang aku sedang sibuk?” terdengar suara seorang namja. Itu suara Minhyuk dari lantai 2 rumahnya.
                “No? Sejak kapan kau disitu?” tanyaku dengan lantang.
                “Sebentar!” Minhyuk masuk ke rumahnya. Sesaat kemudian dia menghampiri kami.
                “Kajja!” ajak Minhyuk sambil menggandeng tangan Kyu.
                “Ya! Kau mau kemana?”
                “Tentu saja ke kebun binatang, memang kita mau ke sana kan?”
                “Aiiish, kita? Aku hanya ing.....” belum selesai aku bicara, tanganku sudah ditarik pergi oleh 2 namja tampan ini.

                Kebun binatang tampak ramai hari ini. Mungkin karena hari ini hari Minggu. Hari yang pas untuk berkumpul dengan keluarga.
                “Eomma, eomma, aku mau es klim, es klim coklat, es klim coklat.” Aku pun menuruti kemauannya.
                “Yang ini?” aku berusaha memilihkannya.
Kyu menggeleng.
                “Ini?”
Kyu menggeleng.
                “Atau kau mau yang ini?”
Kyu masih menggeleng.
                “Jadi kau maunya apa? Eomma sudah mengambilkan yang coklat tapi kau tidak mau.”
                “Mau milih cendili, milih cendili. Gendong, gendong.”
Tiba-tiba Minhyuk menggendong Kyu, membiarkan Kyu duduk di bahunya. Melihat mereka berdua begini, mengingatkanku akan mantan suamiku, orang yang ingin sekali kulupakan.
                Kamu pun berjalan-jalan mengelilingi kebun binatang. Kyu masih duduk di bahu Minhyuk, terlihat nyaman bersamanya. Tapi entah mengapa hari ini aku tidak cerewet seperti biasanya.
                “Noona, gwaenchanayo?” tanya Minhyuk.
                “Gwaenchana. Wae?” kataku agak dingin.
                “Ani! Dari tadi kau dingin padaku? Noona marah ya padaku? Apa karna soal aku menyuruh Kyu memanggilku appa.?”
                “Tepat! Itu kelewatan Minhyuk-ah!”
                “Mianhae noona! Tapi aku serius mengenai itu.”
                “Mwo?” aku tidak mengerti apa maksudnya.
                “Permisi! Bisa saya mengambil foto kalian untuk koleksi foto pengunjung kebun binatang kami? Dari tadi saya mencari sebuah keluarga yang harmonis dan mata saya tertuju pada kalian,” kata petugas kebun binatang sambil menggenggam SLR nya.
                “Poto, poto. Ayo kita poto!”
                “Mwo? Keluarga? Ah jinjja! Ahjussi, kami bukan.....” lagi-lagi belum selesai aku bicara, Minhyuk memotong.
                “Ayo ahjussi, kami bersedia.” Minhyuk mengambil posisi. Kyu masih dibahunya. Tangan kanannya merangkul pinggangku dan menarikku hingga merapat ke sampingnya.
                “Satu...dua...tiga!”

                Hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Minhyuk menggendong Kyu yang sedang tertidur di punggungnya. Aku senang membuat anakku senang. Tapi jadinya kakiku kesakitan. Seharusnya aku tidak menggunakan sepatu berhak.
                “Noona, jalannya kok pincang? Kakimu sakit?”
                “Ani. Aku tidak apa-apa,” kataku menahan rasa sakit.
                “Aish. Sini ikut aku!” Minhyuk tiba-tiba menarik tanganku menuju sebuah bangku taman. “Noona duduk dan tunggu di sini. Ini tolong pegang Kyu.”
Setelah Minhyuk menyerahkan Kyu padaku, dia pergi entah kemana. Apa yang mau dilakukan anak itu.
Detak jantungku bergerak cepat, kenapa ini?
                Taman begitu sepi, hanya ada aku dan Kyu. Jelas, ini sudah malam. Kubiarkan Kyu tidur dipangkuanku. Kupandangi wajah lugunya. Sungguh sangat mirip dengan ayahnya, orang yang amat sangat kucintai. Perceraian ini tidak akan terjadi kalau saja sekretaris wanita itu tidak hadir diantara kami. Tapi dia memang seorang ayah dan mantan suami yang bertanggung jawab. Dia memberikan seluruh hak asuh Kyu padaku dan mengirimiku uang untuk membiayai kehidupan kami sehari-hari. Ah apa kabar dia? Setelah perceraian kami tidak pernah bertemu lagi sampai saat ini, menelpon saja tidak. Tidakkah kau tau kalau Kyu merindukanmu.....yeobo?
                “Noona? Kau melamun?” tanya Minhyuk terengah-engah. Sepertinya dia sehabis berlari.
                “Dari mana saja kau?”
Minhyuk tidak menjawab. Dia berjongkok dihadapanku, lalu melepas sepatuku.
                “Ya! Apa yang mau kau lakukan????”
                “Aigoo, yang begini kau bilang tidak apa-apa? Lihat belakang tumitmu, merah-merah.” Tanpa babibu lagi, Minhyuk mengambil sesuatu dari kantong plastik. Dia menempelkan plester di lukaku.
                “Gomawoyo!” kataku malu-malu.
                “Chonmaneyo!” Lalu Minhyuk duduk di sampingku. “Oh ya, aku juga membeli minuman. Ini untukmu.”
                “Kau baik sekali Minhyuk-ah.”
                “Tentu, aku ini memang baik hati.”
PLETAK!
                “Kok aku dijitak?” Minhyuk mengusap-usap kepalanya.
                “Itu memang pantas untukmu!”
Selanjutnya kami hanya terdiam. Hanya terdengar suara air yang mengalir di tenggorokan kami. Dan suara detak jantung kami.
                “Minhyuk-ah?”
                “Ne?”
                “Tadi di kebun binatang, kau berkata serius mengenai itu. Itu apa?”
Mendengar aku bertanya begitu, Minhyuk hanya diam seribu bahasa.
                “Minhyuk-ah, kok diam?”
                “Kau tidak mengerti maksudku?”
Aku menggeleng. Raut muka Minhyuk terlihat serius. Tidak biasanya.
                “Kau tidak peka ya noona.”
                “Langsung saja, apa maksudnya. Aku benci dibuat penasaran.”
                “Itu....”
                “Itu?”
                “Hmm....”
                “Hmm?”
                “Eee...”
                “Eee? Aish cepat katakan!”
                “Aku serius waktu aku menyuruh Hankyu memanggilku appa.”
Jadi itu? Aigoo, ku kira apa.
                “Kau membuatku penasaran. Minhyuk, aku tidak mau menyuruh Kyu memanggilmu appa. Kau kan bukan suamiku. Kau itu namja yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.” Tangan kiriku meraih bahu Minhyuk dan menepuk pelan.
                “Kau benar-benar tidak peka Kim Taeyeon!”
Tiba-tiba Minhyuk melepas tanganku yang ada di bahunya, lalu menggenggamnya. Detak jantungku berdegup kencang.
                “Minhyuk-ah, apa yang kau lakukan?” aku berusaha menarik tanganku, tapi namja yang berusia 5 tahun lebih muda dariku ini berusaha menahan.
                “Kim Taeyeon, aku serius ingin menjadi ayah bagi Kyu dan....menjadi suami bagimu.”
                “MWO?! Ah jinjja! Jangan main-main!” Mendengar Minhyuk menyebut nama lengkapku, detak jantungku berdegup semakin kencang. Dan kata-katanya itu...entah aku harus senang atau justru sebaliknya. Ingin rasanya aku tersenyum, tapi tidak bisa.
                “Minhyuk, ini tidak boleh terjadi!” Aku berusaha menarik tanganku dari genggamannya, tangannya tidak menahanku lagi. Mengapa kau tidak menahannya lagi Hyuk? Aissssh, kenapa aku berpikir begitu.
                “Wae? Apa karena perbedaan usia kita. Itukah?”
                “A..aniyo! a..aku....”
Tiba-tiba Minhyuk menciumku. Ingin sekali aku menarik diri, tapi pikiran dan hatiku berlawanan. Aku membalas ciumannya.
                “Eomma...” Kyu terbangun, kamipun menarik diri.
                “Kau sudah bangun Kyu?” kataku sambil mengusap-usap rambutnya.
                “Rumah sudah dekat, aku pulang duluan noona. Annyeong!” Minhyuk tiba-tiba melongos pergi meninggalkan kami.

                Dua bulan berlalu, sejak kejadian itu, Minhyuk tidak pernah lagi datang ke toko bungaku atau sekedar mengajak Kyu bermain. Kyu terus saja menanyai Minhyuk, aku kehabisan alasan. Aku ingin sekali menanyai kabarnya, tapi aku takut. Takut dia menolak bertemu denganku.
                Sejak Minhyuk menciumku, entah kenapa bayangan Minhyuk selalu muncul di kepalaku. Minhyuk yang sedang menyapaku, Minhyuk yang sedang membeli bungaku, Minhyuk yang ketahuan olehku sedang menaruh bunga tepat di depan pintu rumahku, Minhyuk yang sedang bermain dengan Kyu, dan masih banyak lagi. Aku sangat rindu sekali padanya.
                ‘Mwo? Rindu padanya? Aniyo!’
                ‘Kau rindu padanya Taeyeon.’
                ‘Pada Minhyuk? Aish, dia masih kecil.’
                ‘Delapan belas tahun kau bilang masih kecil? Aa, jadi kau cuma mempermasalahkan umur?’
                ‘A..aniyo! mana mau dia denganku. Aku sudah memiliki anak.’
                ‘Kau masih muda, 23 tahun. Ayolah, jangan kau bohongi dirimu sendiri. Kau mencintainya.’
                ‘Cinta? Sejak kapan?’
                ‘Sejak Minhyuk mencium kau.’
                ‘Tapi itu bukan berarti aku cinta padanya.’
                ‘Kalau tidak cinta, kenapa kau membalas ciumannya? Lalu kenapa hanya ada Minhyuk yang ada di kepalamu. Kyu saja mendengar kau mengingau menyebut nama Minhyuk.’
                ‘Jinjja?’
                ‘Kau mencintai Minhyuk, kau mencintai Minhyuk, kau mencintai Kang Min Hyuk.’
                ‘IYA IYA IYA~, aku mencintai Minhyuk. Aku rindu sekali padanya. Apa yang harus aku lakukan?’
                ‘Temuilah dia dan utarakan perasaanmu.’
AISSSSSSH, hatiku bergejolak.
                “Kyu, ayo kita ke rumah Minhyuk.”

TOK TOK TOK!
KLEK! Seseorang membukakan pintunya untukku.
                “Annyeonghaseyo ahjumma! Lama tidak bertemu,” sapaku pada ibunya Minhyuk. Bibi menyambut kami dengan ramah.
                “Sudah lama sekali aku tidak melihat kalian. Hai tampan, kau sudah besar ternyata.”
                “Omawo ajuma!”
Ayah dan ibu Minhyuk sibuk sekali dengan pekerjaan mereka yang tidak ku ketahui. Makanya aku jarang sekali bertemu mereka. Setiap aku bertanya pada Minhyuk apa pekerjaan mereka, dia hanya menggeleng lalu berkata, ‘Aku sendiri tidak tau.’
                “Ayo masuk. Aku rindu sekali pada kalian, terutama si tampan ini.”
                “Aku mencari Minhyuk, apakah ada?”
                “Minhyuk tadi bilang pergi ke taman.”
                “Kalau begitu aku mau menyusulnya. Hmm bisa titip anakku?”
                “Tentu saja boleh. Ayo tampan, kita main di dalam.”
                “Aku ingin ikut eomma, ketemu hyung.” Kyu  ingin ikut aku.
                “Kau disini saja tampan, ahjumma baru saja masak sate ikan.” Mendengar bibi berkata sate ikan, tanpa permisi Kyu masuk ke dalam.
                “Kyu? Ah, ahjumma maafkan anakku.”
                “Gwaenchana. Pergilah!” Bibi tersenyum kembali, senyuman yang sama seperti senyuman orang yang sangat kurindukan.
                “Gomawoyo!” tak lupa aku pamit pada bibi.
                Akupun pergi menuju taman. Tak sabar ingin bertemu Minhyuk, aku berlari. Serindu itukah aku padanya?
                Sesampai di taman, ku telusuri isi seluruh taman. Tapi aku tidak menemukan Minhyuk. Kemana dia? Ah, satu tempat yang belum kutelusuri. Bangku di tempat kami...
                Benar saja dia ada di sana, tapi tidak sendirian. Dia dengan seorang yeoja yang kelihatannya sebaya dengannya. Dan mereka sedang....berciuman.
                Aku hanya terpaku melihat mereka. Aku tidak ingin melihatnya, tapi kakiku terasa terpasung, tidak dapat bergerak. Minhyuk..kau..dengan yeoja itu..di bangku tempat kita.. aish, air mataku, kenapa kau turun??
                Baru saja kakiku dapat bergerak untuk pergi menjauh, Minhyuk melihatku.
                “Noona?”
                “Dia siapa Hyukie?” yeoja itu memanggilnya hyukie? Tak diragukan lagi.
Aku tidak menghiraukannya. Aku terus berjalan cepat menghindari mereka.
                “Noona! Noona!” suara Minhyuk terdengar mengecil.
Bahkan Minhyukpun tidak mengejarku? Aish, Taeyeon kau salah paham. Dia itu menciummu hanya untuk mempermainkanmu.
TOK TOK TOK! TOK TOK TOK! TOK TOK TOK!
Aku mengetok, lebih tepatnya menggedor pintu rumah Minhyuk. Sang pemilik rumah bersama seorang bocak kecil membukakan pintunya.
                “Eomma...”
                “Taeyeon, ada apa? Kau menangis?”
                “Kyu, ayo kita pulang! Ahjumma, terima kasih telah menjaga Kyu,” aku langsung menarik kasar tangan Kyu, dan mengajaknya pulang.
                “Eomma, tanganku cakit..” keluh Kyu.
Tiba-tiba Minhyuk menghadang.
                “Noona, tolong dengar penjelasanku dulu!” Minhyuk menggenggam bahuku, berusaha menahan kepergianku. Akupun menepisnya.
                “Penjelasan apa? Tadi itu sudah sangat jelas. Ayo Kyu, kita pulang.”
Kyu merengek.
                “Eomma, aku mau main cama hyung, main cama hyung.”
                “PULANG KYU!” bentakku. Kyu terdiam. Maaf Kyu, eomma tidak bermaksud begitu.
                “Kau tidak perlu begitu pada...”
                “Diam! Ini semua karenamu. Kalau saja aku tidak....”
Aku tidak meneruskan kata-kataku. Aku menggendong Kyu dan pergi menuju rumah.

                Sejak tadi Hankyu hanya terdiam. Kuajak bicara dia tidak menyaut. Apa karena tadi aku bentak?
                “Mianhaeyo Kyu! Eomma tidak bermaksud mem....” begitu aku bicara, Kyu pergi meninggalkanku menuju kamarnya.
TOK TOK TOK!
                “Kyu, maafkan eomma. Aku tidak bermaksud membentak kau. Kyu...” air mata kini membanjiri pipiku. Tubuhku lemas, akupun terjatuh.
                “Kyu.. kyu, maafkan eomma.. kyu,” panggilku terisak-isak.
KLEK! Pintu terbuka.
                “Eomma nangis?” tanya Kyu lalu memelukku. Akupun membelai rambutnya yang mulai panjang.
                “Maafkan eomma, Kyu. Maafkan eomma,” aku memeluknya makin erat.
                “Eomma menangis karena aku, mianhae eomma. Aku tidak mau seperti appa, membuat eomma menangis.”
Ah Kyu, kau memang anak yang baik. Aku bukan menangis karenamu Kyu, bukan pula ayahmu. Ini karena Minhyuk. Orang yang mulai kucintai.

                Keesokan harinya, aku bertekad untuk melupakan kejadian kemarin. Maka dari itu aku ingin jalan-jalan ke departemen store. Sengaja aku tidak mengajak Kyu. Kyu kutinggalkan di rumah bersama bibi yang selama ini mengurusku dari kecil.
                “Sudah lama sekali aku tidak memanjakan diriku sendiri. Ayo bersenang-senang!”
                Aku berusaha membangun mood yang baik, tetap saja tidak bisa. Minhyuk, Minhyuk, Minhyuk. Hanya dia yang ada di otakku.
                “Eonni?” seseorang memanggilku. Wajahnya tidak asing.
                “Nugu?”
                “Ini aku, yang di taman kemarin. Ah, chonun Ryu Hyoyoung imnida. Aku teman sekelas Hyukie.” Yang di taman? Ah ya, aku ingat.
Dia yang bersama Minhyuk kemarin.
                “Kim Taeyeon imnida.”
                “Hmm, eonni. Aku ingin menjelaskan sesuatu.”
                “Aku sedang tidak ingin membahas apa-apa.” Lalu aku pergi meninggalkannya.
                “Eonni, kau harus mendengarkannya dulu.”

                Akhirnya aku menemukan taxi kosong. Tanpa basa-basi aku langsung masuk ke dalam.
                “Jalan, ahjussi. Tolong cepat!”
                Babo kau Taeyeon! Seharusnya kau dengar dulu penjelasan Minhyuk. Aish, aku sungguh menyesal.
                ‘Eonni salah paham. Aku mengutarakan perasaanku padanya. Tapi dia menolak, katanya sudah ada yeoja di hatinya yang sangat ia cintai. Dan yang kau lihat kemarin, itu aku yang menciumnya, bukan sebaliknya. Saat Hyukie berusaha mengejarmu, aku baru sadar bahwa kaulah yeoja yang dicintainya. Cepat temui dia. Siang ini dia akan ke bandara Incheon, mungkin sekarang masih dirumah. Dia.... eonni? EONNI???’
Aku langsung meninggalkannya tadi, begitu panik mendengar kata bandara. Kau mau pergi kemana Minhyuk-ah? Semoga kau masih di rumah.
                Taxi berhenti tepat di depan rumah Minhyuk. Akupun berlari lalu menggedor pintu rumah Minhyuk, berharap dia belum pergi.
                “Minhyuk-ah! Minhyuk-ah! Min...”
KLEK! Ibunya Minhyuk yang membuka pintunya
                “Taeyeon? Kau mencari Minhyuk? Tapi Minhyuk sudah pergi 3 jam yang lalu.”
                “Mwo? Ke bandara?”
                “Ne~ dia mau...”
Tiba-tiba tubuhku lemas, lalu terjatuh.
                “Taeyeon, kau tidak apa-apa?” bibi berusaha membantuku berdiri. Ku raih handphone di saku ku. Menelpon Minhyuk, berharap dia mengangkatnya.
                “Yobosseyo?” terdengar suara namja yang tak asing lagi bagiku di seberang telepon.
                “Minhyuk-ah! Kau dimana? Cepat katakan.”
                “Ada apa noona?”
                “Aku... aku mencintaimu Minhyuk. Minhyuk-ah, jangan pergi,” kataku lirih. Air mata mulai menetes.
                “Mwo? Aku tidak mendengarnya noona. Bisa katakan sekali lagi?”
                “SARANGHAEYO~”
KLIK! Sambungan terputus.
                “Halo? Halo? Minhyuk-ah?” Minhyuk memutus sambungannya. Minhyuk, apa kau benci padaku?
                “Bisa kau ulangi lagi? Aku masih tidak bisa mendengar.” Terdengar suara seorang namja yang sama persis dengan pemilik suara di seberang telpon tadi. Aku mencari arah suara tersebut berasal. Dan dari kejauhan, aku melihat sosok Minhyuk.
                “Noona bilang apa tadi?” Minhyuk kembali bertanya seraya berjalan menuju kemari. Dan kini dia persis di depanku. Akupun memeluknya.
                “Kau tidak akan pergi jauh kan?” aku memeluknya semakin erat, seakan tidak mau melepasnya.
                “Nugu?”
                “Kau, babo! Siapa lagi. Lalu untuk apa kau ke bandara.”
                “Oh itu!” Minhyuk melepas pelukannya. “Aku mau mengantar temanku yang akan pergi ke Jepang. Dia melanjutkan kuliah disana. Ya! Kau saja tidak tau aku sudah lulus, ya kan?”
                “Mwo? Kau sudah lulus? Ah, mianhae aku tidak mengetahuinya. Lagi, kemana kau dua bulan ini, tidak datang ke toko bungaku, tidak menghubungi aku dan Kyu?”
                “Sesungguhnya aku malu untuk bertemu noona sejak kejadian itu. Lagipula aku sibuk belajar untuk ujian kelulusan. Mana selamat untukku?”
                “Chukhae Minhyuk-ah!”
                “Mana hadiahnya?”
Aku mengecup bibirnya.
                “Saranghaeyo, Kang Min Hyuk!”
                “Nomu saranghaeyo, Kim Taeyeon!”
Kemudian Minhyuk menciumku, aku membalas. Namun, tiba-tiba aku menarik diri. Ada yang mengganjal pikiranku.
                “Minhyuk-ah! Kau tidak malu berhubungan dengan ku? Yeoja yang sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak?”
                “Apa peduliku. Ini hidupku. Aku berhak mencintai orang yang memang kucintai, siapapun dia. Dan Jung Han Kyu? Tidak taukah kau sejak aku bertemu kalian, rasanya ingin sekali aku memiliki kalian.”
Minhyuk kembali ingin menciumku, tapi aku menghindar.
                “Lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu? Pasti mereka tidak setuju anak mereka satu-satunya menikah dengan Yeoja beranak satu.”
Minhyuk tersenyum.
                “Kalo itu kau tanyakan saja langsung pada orangnya.” Minhyuk mengalihkan pandangan ke arah pintu rumahnya. AISSSSSH!!!! Aku lupa bibi masih di sana. Dan, AIGOO!! Kenapa kau disini Kyu? Jadi dari tadi mereka melihatnya??
                “Karena aku ingin mempunyai seorang cucu instan, boleh lah. Kyu, mulai sekarang panggil aku halmeoni. Dan untuk namja yang disana, panggil dia appa. Arasso?”
                “Ne, halmeoni! Appa~!” Kyu berlari menghampiri kami. Minhyuk menggendongnya. Kali ini mereka benar-benar terlihat seperti ayah dan anak.
                “Kalian, ayo masuk. Kita harus merayakannya. Minhyuk, hubungi ayahmu, suruh pulang cepat!”
                “Ne!”
KRIIIIIIIIIING! Nada handphone ku berbunyi.
Ada telepon masuk, dari nomor yang tidak kukenal.
                “Yoboseyo?”
                “Tae-ya!”
                “Nugu?”
                “Kau benar-benar lupa suaraku...”
Suara ini...
Handphone ku terjatuh.


*bersambung*

7 comments:

  1. aiiiisssss ... bagus banget
    nggak sabar nunggu part 2 .. jreengg jreenggg
    jangan lama2 ya peb ... :)

    i'm waiting waiting ..

    ReplyDelete
  2. kayaknya yang nelpon itu... ah gak jadi nebak deh xD
    penasaran, lanjut eon :3

    ReplyDelete
  3. bagus....epngen jadi taeyeon hehehe
    lanjutkan onn ^^

    ReplyDelete
  4. hahahihihuhuhehehoho
    jadi enak.
    gomawowo *bow*
    belum dilanjutin, palingan minggu depan ;p

    ReplyDelete
  5. jangan kelamaan dunk nyari wangsitnya ... *nunggu lanjutan.com*

    ReplyDelete
  6. lanjut lanjut de,,
    sukaaaa..

    ReplyDelete
  7. kereeenn^^ lanjuuut!!!

    ReplyDelete

Cara komen (bagi yang kurang jelas):

1. Ketik komen kalian di kotak komentar.

2. Di samping 'Berikan komentar sebagai', klik Google (bagi yang menggunakan Blogspot) atau LiveJournal/Wordpress/AIM/TypePad/OpenID (bila kalian mempunyai akun disana)

3. Atau bagi yang tidak punya akun sama sekali / tidak mau ribet, klik NAME/URL (kosongkan URL bila tidak mau ditampilkan)

4. Klik 'Poskan komentar'