Saturday, January 8, 2011

KOKO NI IRUYO

Author: Damar Oktarini (@damarokta)


Rating: Teenager


Genre: Romance


Pemeran:
- Lee Jonghyun CNBLUE
- Song Kara (reader)

Pemeran pembantu: 
- Song Dara (whoever)
- Song Joongki
- Lee Jinki SHINee

Pernah diposting di: Facebook (Damar Oktarini)
Note: semoga kalian suka. KUHARAAAAAAAAAAP >,<





         
Musim panas yang kurang menyenangkan akan dimulai esok. Bagi Song Kara tak ada yang lebih menyenangkan lagi selain sekolah dan belajar. Hanya buku-buku pelajaran yang selama ini menjadi teman setianya. Dan salah satu buku yang paling ia sayang, Koko Ni Iruyo yang selalu menemaninya dimana pun ia berada. Anak yang pintar dalam segala bidang, tapi tak pandai dalam bergaul. ”YA KARA-YAH! JANGAN BENGONG!” ucap Song Joongki, kakak pertama Kara. Kara yang mendengar ocehannya pun tersadar, “haaish mengagetkanku saja!” ucapnya kesal. Joongki hanya tertawa, “oppa! kenapa aku harus bantu-bantu disini? Kan sudah ada kau dan onnie. Aku tidak diperlukan disini kan?” ucapnya. Joongki yang tengah membersihkan meja menatapnya, “ya! Daripada kau dirumah, tak ada kerjaan, hanya membaca buku, buku, dan buku. Sekali-kali kau harus merasakan iburan musim panasmu!” balas joongki dengan alasannya yang membuat Kara semakin tak tahan. “apa? Liburan katamu? Cih ini sama saja dengan part time! Ah ani- ini sama saja dengan bekerja full time!” elaknya dengan muka kesal. Joongki mencoba membujuknya, ”Kara-yah, nikmatilah!” ucapnya lalu tersenyum dan melayani pembeli. Liburan Kara dihabisakan dengan bekerja membantu di kedai pinggir pantai milik neneknya. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi selain dipaksa oleh kedua kakaknya.
            ”aigo! Mukamu kenapa ditekuk begitu uh?” tanya Song Dara sang kakak kedua. Kara hanya menatapnya sinis, ”ah ara- kau pasti ingin main dipantai uh?” tanya Dara. Lagi-lagi Kara hanya diam. Dara menatapnya dan menerka-nerka isi hati sang adik, ”aku tak mau adikku ini tak punya liburan yang menyenangkan. Sama saja kan kalau disini kau bisa dapat uang sekaligus liburan gratis haha” ucapnya. Kara tambah kesal dengan ulah kedua kakaknya yang menurutnya tak beralasan mengajaknya kesini, ”cih pikiranmu hanya uang dan gratisan saja. Aku tak seperti kau! AKU MAU PULANG!” triaknya pada Dara. Dara hanya tertawa menyaksikan adiknya yang tersiksa. ”BRISIK!” ucap seseorang. Kara menoleh, dilihatnya seorang cowok yang tengah duduk bersama teman-temannya di pojok kedai. Ia menatap sinis cowok itu, ”WAE-? TAK SUKA KALAU AKU BERTERIAK HUH?” ucap Kara kesal. Cowok itu membalas tatapan sinis Kara, ”brisik!” ucapnya datar. Kara hanya diam menatap cowok itu. Dara yang melihatnya hanya terpesona dengan tingkah adiknya. ”kalau tak suka, kau boleh pergi!” ucap Kara kesal. Cowok itu tertawa sinis, ”cih aku pembeli disini. Tak berhak kau mengusirku” balasnya enteng. Teman-temannya hanya diam dan tampak mendukungnya. ”aku berhak mengusir kau! Ini kedai nenekku!” ucap Kara dengan muka merah menahan kesal. Cowok itu nampak tenang menghadapi Kara, ”o? Tak sepantasnya kau mengusir pengunjung kedai nenekmu. Bisa rugi kalau pelayannya seperti kau” balas cowok itu. Kara menghela napas dan menghampiri si cowok itu. Dara tampak menahannya, ”kara-yah, dia pembeli disini, kau mau menghancurkan citra kedai nenek huh?” bisik Dara menenangkan Kara. Tapi nampaknya Kara tak terima dengan ucapan cowok itu. ”kau boleh pergi dan tak usah bayar! Itu-permintaan-maaf-dari-kedai-kami!” tekannya pada cowok yang kini dihadapannya. Cowok itu pun bangun dari tempat duduknya, ”kami emang mau pergi dari sini dan tentunya membayar apa yang telah kami pesan” ucap cowok itu lalu mengeluarkan beberapa ribu won. Kara tampak tak sabar dengan tingkahnya, ”ppali!!!” ucapnya. Cowok itu pun melangkah pergi disusul ketiga temannya. ”kau mengganggu cuaca yang cerah ini” bisik cowok itu di telinga Kara. Membuat Kara memerah kesal dan geram. Joongki dan Dara pun meminta maaf pada cowok itu. ”YIBA! JANGAN BALIK LAGI” triak Kara sambil tertawa kesal. Cowok itu hanya tersenyum menyambut triakan Kara. Joongki menatap Kara dengan kesal, ”kk...kkaauuuu! jangan bertingkah seperti itu lagi arachi!” ucapnya gemas sambil menjitak kepala Kara. Kara hanya tertawa puas lalu pergi keluar kedai. ”ya! Mau kemana?” tanya Dara. Kara menoleh, ”aku kan sudah bekerja, pantas dong aku menikmati udara sebentar!” jawabnya lalu pergi begitu saja. Dara hanya diam pasrah melihat adiknya.
            Udara yang segar, suara ombak tergulung, dan desir pasir yang lembut membuat hatinya sedikit tenang. Kara terduduk di hamparan pasir putih basah sambil menikmati sebuah buku kesukaannya. Inilah sedikit kebahagiaan yang didapat dari liburan musim panasnya. Tenang, tanpa ada satu orangpun disini. Pantai yang tak diketahui orang banyak karena tertutup karang yang berbahaya. Baginya inilah markasnya selama dua minggu libur musim panas ini. Ia begitu yakin tak ada seorang manusia pun yang akan mengganggunya di sini. Tapi keyakinannya hancur, ia mendengar sebuah gitar dibalik karang itu. Kakinya pun melangkah menuju sumber suara, pelan-pelan tapi pasti. Ia ingin tahu siapa yang mengganggu ketenangannya itu. Ia tengokkan kepalanya dan melihat sesosok cowok dengan membawa gitar. Suara yang merdu, gumam Kara dalam hati. Ia tampak tak terganggu dengan kehadiran Kara dibelakangnya. Tapi karang ini membuat kaki Kara sakit, “aigo-“ ucapnya keceplosan. Cowok itu menoleh. Kara masih memegangi kakinya yang sakit, saat mendongakkan kepala, “OMO!” triaknya kaget. Cowok dikedai tadi siang tengah menatapnya. “kau memang suka berteriak ya” ucapnya datar. Kara hanya diam. Cowok itu memandang kaki Kara yang sakit, “karang ini bahaya, seharusnya kau pakai sandal” ucap cowok itu. Kara memandangnya tak peduli, “siapa juga yang mau kesini” elak Kara. Cowok itu tertawa kecil, “tapi nyatanya kau sudah disini” balas cowok berambut pendek itu. Kara menunduk malu, “aku akan pergi, kau mengganggu ku!” ucap Kara. Cowok itu menghampirinya dan menatapnya aneh, “bukankah kau yang menggangguku dengan teriakanmu itu” balasnya tenang. Kara nampak tak ingin menghiraukannya. Ia pun pergi dengan tergopoh-gopoh karena kakinya yang berdarah. Karena kesal, ia lupa tak membawa kembali buku kesukaannya yang tergeletak di hamparan pasir putih pantai.
            ***
            ”ONNIE!” triak Kara dari dalam kamar. Dara segera menghampirinya, ”bisa tidak kau tak berteriak sehari saja! Wae?” tanya Dara onnie. Kara panik sambil mengobrak-ngabrik isi tasnya, ”kau lihat buku ku?” tanyanya. Dara nampak berpikir, ”buku? Buku yang mana?” sambil duduk disamping Kara yang tengah panik. ”bukuku! Yang....yang judulnya koko ni iruyo. Kau...kau lihat?” ucapnya panik. Dara menggeleng polos. Kara nampak semakin panik, ”JOONGKI OPPA!” triaknya lagi kini memanggil Joongki. Joongki berlari menuju kamarnya, ”wae?” tanyanya. ”kau lihat buku koko ni iruyo milikku? Yang bersampul biru itu” jelasnya. Joongki berfikir sambil menggaruk kepalanya. Kara menatapnya penuh harap, berdoa agar Joongki tahu keberadaan si buku kesayangannya. Tapi oppa itu menggeleng. Kara lemas, raut mukanya tampak sedih. ”memangnya kau taruh dimana tadi?” tanya Joongki. Kara menggeleng tak tahu, ”aku tak ingat”. ”coba cari dulu yang benar” usul Dara. Kara mengulang lagi pencariannya. Mengobrak-abrik isi tasnya kembali, ”tak ada- aa onnie-ya eotteoke?” rengeknya. ”kalau hilang bagaimana?” ucap Kara sedih. Joongki hanya tersenyum, ”relakan saja” ucapnya enteng. ”OPPA-!!!! Eotteoke” ucapnya cemas. Dara mencoba menghiburnya, ”sudah kan bisa kita beli lagi nanti” ucap Dara mengusap rambut panjang Kara. ”onnie-ya itu ada tanda tangan Jinki, penulisnya dan kau tahu kan betapa pentingnya buku itu untukku!! lagipula buku itu tak dijual lagi di toko Korea” ucapnya memelas. Joongki tersenyum, ”nanti oppa carikan!” ucapnya. Kara memandangnya senang, ”JEONGMAL?” triak Kara yang membuat Joongki menutup kedua telinganya. ”ne- tenang saja. Kita tanyakan ke tiap pengunjung kedai, eotteoke?” balas Joongki meyakinkan Kara. Muka Kara berubah semangat dan memeluk sang kakak laki-lakinya. Anak aneh, gumam Joongki sambil tertawa kecil.
            Sudah tiga hari pencarian buku itu dilakukan oleh ketiga kakak beradik itu. Kedua kakaknya nampak tak letih membuat adiknya tenang. Buku itu memang kesayangan Kara. Beberapa kali ia membacanya tanpa bosan. Tapi pencarian itu tak menghasilkan apapun. Buku kesayangannya berada entah dimana. Kara pun tak ingat terakhir kali ia meletakkan buku itu. Ia terduduk lemas di bangku kedai. Nampak sedih. Dara tak berani mendekatinya karena akan membuat mood si adik semakin tak baik. ”Kara-yah, um bagaimana kalau kita beli buku itu lagi lewat online shop?” usul Joongki menghiburnya. Kara menatapnya, ”huh tak ada tanda tangan Jinki!” balas Kara putus asa. Dara mengusulkan hal yang lebih bodoh lagi, ”um kita beli buku baru saja, yang lebih menarik dari itu, bagaimana?” ucapnya semangat. Tapi Kara malah tak peduli ide kakak perempuannya itu, ”SHIREO---” triaknya kesal. Joongki menghampirinya, ”Kara-yah, kau ini sudah dewasa, cobalah berpikir dewasa. Buku itu boleh saja menjadi buku kesayanganmu, tapi jangan memaksakan kehendak anak kecilmu itu! Hilang ya hilang, pasrahkan saja! Kita sudah berusaha mencarinya kan!” ucap Joongki menasehatinya. Ia tak tahan dengan sifat anak kecil Kara. Ia  menghela nafas panjang, menenangkan diri sendiri. Kara berdiri dari tempatnya duduk, ”oppa- kalau kau tak memaksaku kesini juga semua ini tak akan terjadi!” balasnya dingin. Dara hanya diam melihat kakak dan adiknya berdebat. ”ini semua tak ada hubungannya dengan aku yang mengajakmu kesini. Kalau saja kau punya teman dan bisa melupakan maniak buku kesayanganmu itu pasti kau tak akan sesedih ini. Lupakan masa lalumu!” bela Joongki mencoba membuka pikiran Kara. Kara nampak semakin kesal dengan kata-kata kakaknya yang tak pernah ia dengar sebelumnya, ”oppa tak tahu rasanya jadi aku. HANYA BUKU ITU TEMANKU. APA SALAHNYA AKU MENJAGA TEMANKU SATU-SATUNYA!” ucapnya kesal lalu pergi meninggalkan kedai. Masalah kecil ini berubah menjadi masalah besar. Tujuan Dara dan Joongki membawa Kara kesini malah membuat satu bencana. Tapi Kara lah yang membuat masalah ini membesar, karena pikirannya yang tak dewasa. Begitulah pikir Joongki. Dara mencoba netral, berusaha menjadi penengah antara kakak beradik yang tak mau mengalah ini. ”cih, masalah buku saja kita jadi berantem begini” ucap Dara. Joongki menatapnya, ”aku juga tak menyangka Kara se-maniak itu dengan bukunya. huh pantas saja tak ada yang mau berteman dengannya” ucap Joongki menggelengkan kepalanya. Dara memukulnya kecil, ”ya! Dia adik kita. Apa kau lupa tujuan kita kesini kan membuat kebisaannya berubah dan melupakan msa lalunya itu” bela Dara. Joongki tampak menurut.

            Kara berlari menuju markasnya untuk menenangkan diri. Airmatanya keluar begitu banyak. Tak ada yang mengerti dirinya, begitulah pikiran Kara. Udara malam dingin ini tak membuatnya kapok untuk terus mencari bukunya. Saat sampai di pantai, ia teringat satu hal. Karang dimana ia bertemu dengan cowok itu. Cowok yang telah mengganggunya yang sedang membaca buku kesayangannya. BUKU KESAYANGANNYA! Ia ingat sekarang. Ia lupa membawa pulang buku kesayangan. Ia ingat kalau ia pulang begitu saja, meninggalkan bukunya di atas pasir putih lembab tanpa ingat apapun. Kara berlari menuju tempat yang ia duduki saat itu. Tapi hanya ada pasir putih basah dan kerang-kerang kecil. Tak nampak sebuah buku bersampul biru yang ia cari. Ia terduduk lemas, harapan akan menemukan buku itu disini kembali pupus. Tak tahu harus melakukan apa, Kara hanya diam. Mencerna kata-kata Joongki yang telah membuatnya kesal. Ia memang tak dewasa, tapi inilah Kara. ”apa salahnya aku punya teman sebuah buku?” ucapnya seorang diri di pinggir pantai. ”BABO!” ucap seseorang dari balik karang. Kara terbelalak. Mukanya berubah takut. Tapi ia mencoba mengecek sumber suara itu. Ia langkahkan kakinya menuju balik karang dengan takut. ”nu...nu....nuguya?......” tanyanya takut. Tapi orang itu hanya diam tak menjawab. Kara semakin takut, tapi ia begitu penasaran siapa orang dibalik karang itu. Saat hendak melongok, tiba-tiba saja seorang cowok melongok dari balik karang. ”AIGO!” triaknya kaget. Cowok itu tertawa terbahak-bahak, ”hahahaha mukamu lucu sekali!” ucapnya. Kara tertunduk malu, ”kau, membuatku takut!” balasnya. Cowok itu menatapnya, ”kau anak yang aneh” ucap cowok itu enteng. Cowok yang dikedai waktu itu benar-benar membuat Kara terganggu, ”kau kenapa selalu ada disini!” ucap Kara kesal. ”selalu membuat ku kaget, mengganggu ketenangan orang!” ucapnya lagi. Cowok itu hanya menatapnya dingin, ”ini tempat umum, siapa saja boleh datang kesini..............dan lagi, bukannya kau yang menggangguku duluan dengan gumaman atau triakanmu itu?” balas cowok itu. Kara menghela nafas, bersiap akan memaki cowok yang beberapa lalu membuatnya kesal. ”kau, dengar ya, aku kesini karena ingin menenangkan diri, suara mu itu membuat orang lain terganggu. Apalagi kau bilang aku babo? Huh? BA-KA!” omelnya. Cowok itu nampak tak mendengarkan. Ia malah memandangi laut di malam hari. Kara merasa tersinggung dengan kelakuannya. ”aku kan hanya menjawab pertanyaan bodohmu saja” ucapnya dingin tanpa menoleh pada Kara. Kara mencerna kata-katanya, ”apa katamu? Pertanyaan bodoh?” tanya Kara kurang jelas. Cowok itu membalikkan badannya dan berkata, ”apa salahnya aku punya teman sebuah buku? Begitulah pertanyaanmu, dan menurutku jawaban itu pantas kau terima” ucap cowok itu dengan tatapan yang dingin. Kara nampak kesal, ”k..kkkaaa....kkkauuuuu! selalu membuatku kesal!!!!!!!!!” ucap Kara. ”kau yang membuat dirimu sendiri kesal, ucapanku benar bukan?” balas cowok itu. Kara pun tak mau membalasnya. Ia lantas pergi dengan kekesalan yang bertumpuk. ”aku bersumpah tak akan bertemu denganmu lagi!” gumamnya kecil lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu. Cowok itu menoleh, ”sumpahmu tak akan mempan” ucap cowok itu. Kara tak menoleh. ”SONG KARA!” panggil cowok itu. Kara pun menoleh, kaget darimana ia tahu namanya. ”do?” tanyanya heran. Cowok itu mengangkat sebuah buku bersampul biru berjudul Koko Ni Iruyo milik Kara, ”begitu berharganya kah bukumu ini?” tanya cowok itu. Kara terbelalak kaget melihat buku kesayangannya itu ada di tangan orang yang telah membuatnya kesal. Ia menghampiri cowok itu untuk mengambil buku miliknya, ”itu......bukuku!” ucapnya senang sambil melangkah cepat kearah cowok itu. ”bukumu? Memang namamu Song Kara?” tanya cowok itu polos. Kara mengangguk cepat dan mencoba meraih bukunya di tangan cowok itu. ”kembalikan bukuku!” ucap Kara tak sabar. ”begitukah caramu meminta tolong pada orang yang telah menemukan bukumu?” tanya cowok itu. Kara diam sejenak, ”em.........kam....kamsa.....” ucapnya terputus. Cowok itu nampak menantikan kalimat berikutnya dari Kara. ”aaaah aku tak bisa mengatakannya!” ucap Kara kesal, ”ya kembalikan bukuku! Jebal!” ucapnya lagi kini sambil memohon. Cowok itu nampaknya tak puas dengan permintaan Kara. ”hem tapi buku ini aku yang menemukannya, seharusnya hak milik ini berubah jadi milikku” ucapnya polos. Kara melotot, ”ya! Dibuku itu ada namaku! SONG-KA-RA! Itu namaku! Jelas itu bukuku, cepat kembalikan bukuku!” pintanya kesal. Cowok itu tersenyum manis, ”aku kasihan padamu. Jadi ini teman mu selama ini?” ledek cowok itu. Kara semakin tak sabar, mukanya memerah kesal, ”tak ada urusannya denganmu!” ucap Kara sambil mencoba merebut buku itu. Tapi tubuh cowok itu tinggi dan bukunya sulit digapai, ditambah karang yang berbahaya jika ia tak berhati-hati melangkah. Cowok itu tampak menikmati permainannya dengan Kara, cewek yang baru ia kenal beberapa hari lalu. ”kau, begitu tak punya teman. Kasihan” ucap cowok itu. Kara menghentikan aktifitasnya dan memandang cowok itu dengan dingin, ”punya atau tidak punya, tak ada urusannya denganmu. Jadi kembalikan saja bukuku!” pintanya kesal. Cowok itu diam, tampak tenang dibanding Kara yang panik dan takut bukunya tak dikembalikan. ”pantas kau tak punya teman, sifatmu begitu aneh. Tapi aku mau menerimamu jadi temanku” balas cowok itu. Kara tak tertarik dengan ajakan untuk menjadi temannya itu. Ia lebih menyukai untuk berusaha merebut buku itu dari tangannya. ”kan sudah kubilang, sumpahmu yang tadi tak akan mempan” ucap cowok itu lagi. Kara sudah lelah, ”kumohon, kembalikan bukuku” pintanya yang terakhir. Tapi cowok itu menggeleng. Kara pun menerjang cowok itu, mereka jatuh dan saling bertindih. Tangannya tak dapat meraih tangan cowok itu yang memegang buku. Ia tak menyerah, tapi buku itu tiba-tiba jatuh ke laut begitu saja.

Kara memandang buku kesayangannya jatuh ke laut dalam. Ia bangun dan berdiri di pinggir karang. Matanya membesar seakan tak percaya. Matanya hanya melekat pada sebuah buku yang telah mengambang dilaut. Ia lalu turun dari karang dan mencoba mengambil bukunya yang telah terapung jatuh dari pantai. Cowok itu hanya diam menatap Kara yang berusaha mengambilnya. Tanpa menyerah, Kara terus berenang menuju tengah laut didekat karang. Cowok itu tersadar kalau Kara telah melewati batas pantai. Ia pun bergegas berenang menyelamatkannya. ”YA! ITU TERLALU BERBAHAYA!” triak cowok itu khawatir. Kara tak menghiraukan. Tubuhnya terus ia gerakkan untuk mencapai bawah karang. Tapi cowok itu menangkapnya. Membawa paksa Kara menuju tepi pantai. Kara sempat memberontak, ”KAU TELAH MENJATUHKANNYA! AKU TAK AKAN MEMAAFKANMU!” triak Kara kesal sambil terus berenang. Tapi cowok itu tetap membawanya ke pinggir pantai. Tubuh lemas Kara akhirnya dapat ditaklukkan. Ia tak sadarkan diri karena terlalu jauh berenang sambil menangis. Cowok itu meletakkan tubuh kecilnya di atas pasir putih pantai. ”bodoh! Karena buku itu kau sampai bisa melakukan hal bodoh seperti ini” ucap cowok itu sambil memandang Kara. Tak lama Kara terbangun. Yang ia lihat hanya cowok yang ia benci. ”kau! Aku tak akan memaafkanmu!! Kau benar-benar membuatku membencimu!!” ucap Kara kesal. Ia tak sadar kalau tubuhnya masih lemah, ”ya! Jgan bicara banyak dulu, tubuhmu masih lemah!” ucap cowok itu menenangkan. Kara menangis begitu kejar, ”bukuku! KAU TELAH MENJATUHKAN BUKUKU!!” triak Kara sambil memukul-mukul cowok itu. Tapi cowok itu hanya diam, ”aku..........aku tak sengaja menjatuhkannya!” ucapnya memberikan alasan dengan muka panik. Tapi Kara tak peduli dengan alasannya, ”babo babo babo! Aku tak akan memaafkanmu!” ucap Kara lagi sambil terus memukul cowok itu. Pukulannya tak berenergi, tubuhnya lemas. Ia masih terus menangis, ”kau, kenapa sampai segitunya dengan bukumu itu! Itu hanya sebuah buku, benda mati yang tak bisa jadi temanmu!” balas cowok itu. Kara menatapnya dengan mata yang sangat dingin, ”KAU TAK TAHU APA-APA!” ucap Kara. Cowok itu memandangnya, ”aku memang tak tahu apa-apa, makanya............... aku ingin tahu” balas cowok itu. Kara memandangnya lagi, ”kau sudah bersalah dimataku, untuk apa kau tahu!” ucap Kara. Ia mencoba berdiri. Tapi kakinya terasa lemas. Bajunya yang basah membuatnya kedinginan. ”aku antar kau pulang” ucap cowok itu. Tapi Kara menghiraukannya lagi. ”jangan sok kuat” ucap cowok itu membuat Kara menoleh. Ia menghentikan langkahnya, ”dengan kau mengantarku, tak akan bisa membayar salahmu!” Kara begitu marah hingga ia benar-benar tak ingin memaafkannya. ”itu bukan pengganti kata maafku. Kara-ya, di dunia ini semua orang saling membutuhkan. Jangan hidup seperti kau tak butuh orang lain.” ucap cowok itu. Kara membalas, ”tapi aku tak membutuhkanmu!”. Cowok itu diam, Kara pun pergi meninggalkannya dengan langkah yang tergopoh-gopoh. Tak jauh ia melangkah, tiba-tiba BRUUUK. Badan lemasnya terjatuh di tengah hamparan pasir putih pantai. Cowok itu terbelalak, dan langsung membopongnya ke kedai tempat pertama kali ia bertemu dengannya.
            ***

            Pagi ini Joongki dan Dara begitu senang karena Kara telah sadar. Tapi ada yang membuat mereka lebih senang dari itu. Kara diantar oleh seorang namja! Mereka telah mengetahui semuanya. Buku Kara yang terjatuh ke laut, Kara yang pingsan, dan nama cowok yang membopongnya sekaligus menyelamatkannya hingga kedai. Mereka menyangka kalau cowok itu teman Kara. Tapi tidak dengan Kara yang tak ingat apapun selain bukunya jatuh ke laut karena seorang cowok yang ia benci.
            ”Kara-ya, kau harus berterimakasih pada cowok itu. Kau ingat cowok yang waktu itu bertengkar denganmu 4hari lalu di kedai? Ia yang menolongmu dan membopongmu sampai kedai. Woa romantis-“ ucap Dara tanpa tahu perasaan Kara yang sedang tak ingin diganggu. Kara hanya diam, menatap sang kakak dengan jutek. Joongki mencoba menanyakan keadaannya, “Kara-ya, gwaenchana?” tanyanya. Kara menggeleng, “aku Sangat-sangat tidak baik!”. Joongki hanya diam, sedangkan Dara terus mendorongnya untuk berterima kasih pada cowok itu, “Kara-ya, aku tahu kau pasti tak terima kalau bukumu jatuh kelaut, tapi kau harus tetap berterimakasih padanya karena telah menolongmu” ucap Dara. Kara semakin tak tahan mendengar ocehan kayak perempuannya yang sedari tadi membuatnya semakin teringat dengan cowok itu, “ONNIE-YA! BAGAIMANA BISA AKU BERTERIMA KASIH DENGAN ORANG YANG TELAH MENJATUHKAN BUKUKU KE LAUUUUT????!!!!!!!” triak Kara begitu kesal. Dara kaget mendengarnya. Adiknya begitu marah dan benci dengan cowok itu. Joongki mencoba menenangkan mereka, “Kara-ya” ucapnya lembut. Kara menghela nafas, “mian! Aku Cuma tak tarima kenapa onnie begitu membelanya” ucap Kara. Dara pun memandangnya, “mianhe, onnie salah. Aku terlalu senang kukira ia teman pertamamu disini” ucap Dara. Kara mengangguk, “aku sudah tak punya teman lagi sekarang, hh semua salah orang itu. Semua salah dia!!” balas Kara kesal. Ia begitu tak tarima akan kejadian kemarin. Bisa-bisanya cowok itu menolongnya dan membopongnya kesini. Tapi itu tak membuatnya memaafkan cowok itu.
            Sore ini sore yang sangat membuat Kara tak bersemangat. Ia mulai memikirkan kata-kata Joongki beberapa hari yang lalu. ”aku memang tak dewasa. Tapi itu kan..........” ucapnya terhenti. Airmatanya turun begitu cepat, membasahi pipinya. Lagi-lagi ia menangisi bukunya. ”permisi!” ucap seseorang masuk ke dalam kedai. Kara tak menghiraukan kedatangan orang itu. ”ah Jonghyun-ssi” ucap Dara. Jonghyun tersenyum menyapa Dara dan Joongki yang menyambutnya. Kara yang tengah terduduk tak menyadari kehadiran cowok yang membuat bukunya jatuh ke laut itu. ”hyung, mianhe kemarin sandal Kara tertinggal di pantai. Ini kukembalikan” ucap Jonghyun sambil memberikan sebelah sandal Kara. ”Jonghyun-ah, apa kau benar-benar tak sengaja menjatuhkan buku itu?” tanya Dara. Jonghyun mengangguk, ”tanganku tak bisa menggenggamnya karena Kara terus berontak dan mencoba mengambil buku itu. Mianhaeyo nonna, hyung, bukannya aku sengaja tak ingin mengembalikannya. Saat itu aku hanya ingin tahu Kara sebenarnya, aku tak menyangka Kara begitu cinta buku itu. Jeongmal mianhe” ucap Jonghyun sambil membungkukkan badannya. Dara dan Joongki tampak tak enak, ”ani- gwaenchanayo, Kara bisa pulih kembali. Kami juga tak ingin ia begitu membanggakan bukunya itu” ucap Dara. Jonghyun tampak mengerti dan lega, ”Buku itu begitu ia cinta. Karena penulisnya itu sahabat pertamanya, Jinki. Saat duduk di kelas 1 SMU, ia bertemu dengan Jinki di club sastra. Kebetulan Jinki adalah seorang penulis muda saat itu. Hanya Jinki yang bisa membuatnya nyaman dan ia adalah teman  satu-satunya di sekolahnya dulu. Saat ia diberi buku itu, ia begitu menjaganya. Sampai suatu saat Jinki kecelakaan pesawat. Ia begitu terpukul. Sahabatnya meninggal dan hanya buku itu kenangan mereka. Setiap memegang buku itu, ia selalu membayangkan sedang bersama Jinki. Dan ia menganggap buku itu sebagai penggantinya” jelas Joongki. Matanya menerawang masa lalu Kara. Jonghyun memperhatikannya seksama. ”makanya kami tak ingin Kara begitu teringat Jinki. Ia tak pandai bergaul, hanya Jinki yang mengerti dirinya. Makanya ia tak pernah punya teman” ucap Dara. Jonghyun memandang Kara yang tengah duduk menghadap jendela. ”mianhe, aku tak tahu” ucap Jonghyun sangat menyesal. ”kau tak melakukan apapun. Kami sangat berterimakasih padamu karena telah menolongnya.” ucap Joongki. Jonghyun menatap Joongki, ”aku telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tak aku katakan padanya” jelas Jonghyun. Kara terbangun dari bangku tempatnya ia duduk. Matanya bengkak, mukanya pucat, dan bibirnya kering. Mata Kara melempar pandang pada Jonghyun yang tengah berbincang dengan kedua kakaknya. Kara pun melewati mereka tanpa berkata apapun, ”Kara-ya!” panggil Dara. Kara tak menoleh. ”Kara” panggil Jonghyun. Kara menghentikan langkahnya, ”mau apa kesini? Mau membuang apa lagi? Aku tak punya apapun sekarang!” ucap Kara dingin. Jonghyun menghampirinya. Mencoba membujuknya untuk bicara berdua. Kara menolak, ”sudah kubilang aku tak akan memaafkanmu, terserah kau telah menolongku ataupun membopongku kesini, yang pasti aku tak meminta semua itu. Yang kutahu kau telah menjatuhkan bukuku!” ucap Kara lalu melangkah pergi keluar. Jonghyun menyusulnya. Kara pun berlari tanpa perduli Jonghyun mengejarnya. ”mau sampai kapan kau terjebak masa lalu?” ucap jonghyun sambil mengatur nafasnya. Kara berhenti berlari. Ia membalikkan badannya, ”sampai aku bisa bertemu dengannya lagi” jawabnya datar. Jonghyun tertawa kecil, tak percaya akan jawaban Kara. ”sampai mati?haha” ucap Jonghyun yang membuat Kara begitu marah. ”kk..kau........jangan ikuti aku lagi!!!!!!” ucap Kara bergetar. Jonghyun berlari menuju Kara, ”mianhe!” ucap Jonghyun. Kara tak mau menghentikan langkahnya. Tapi Jonghyun menghalanginya, ”jeongmal mianhe!” ucap Jonghyun. Kara tertawa, ”cih haha untuk apa? Kesalahanmu terlalu banyak dimataku!” balas Kara. Jonghyun menunduk, ”atas kadatanganku tiba-tiba ke hidupmu” jawab Jonghyun. Kara diam, memandang cowok yang selama ini ia benci. Muka Jonghyun begitu menyesal, ia tak berani menatap wajah Kara yang tengah menatapnya. ”aku...........aku tak tahu kenapa aku ingin tahu tentangmu” keadaan berubah hening. Hanya suara ombak dan bisikan angin yang terdengar. Pantai ini berubah jadi dunia gelap di antara mereka. Kara melewati Jonghyun tanpa berkata apapun. ”bangkitlah, jangan terjebak masa lalumu” ucap Jonghyun membelakangi Kara. Kara terduduk di atas pasir, menatap laut biru yang sepi. Jonghyun masih menunduk, ”pergilah!” ucap Kara. Jonghyun membalikkan badannya. Menatap gadis yang membuatnya tertarik sejak awal, ”kau harus kuat!” ucapnya. Kara menatap Jonghyun yangtersenyum lembut padanya. Ia  melihat senyum yang begitu tulus lagi di muka Jonghyun, dimuka orang yang paling ia benci sekarang.  Jonghyun pun meninggalkan Kara sendiri. Membiarkan ia memikirkan perbuatannya. Kara tertunduk, lagi-lagi menangis. Menangis karena Jonghyun yang membuat perasaannya bercampur aduk.
            ***
             Beberapa hari kemuadian, Kara memutuskan untuk pulang ke Seoul. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi disini. Kejadian buku itu membuatnya tak suka tempat ini. Ia pun mengepak barangnya dan bersiap untuk pulang sore nanti. Dara dan Joongki hanya menuruti keinginan adik tercintanya. Tanpa ekpresi apapun, ia melangkah keluar kedai menuju karang markasnya. Raut mukanya seperti orang yang ditinggal mati seseorang yang dicintainya. Pucat dan tak bersemangat. Ia berdiri di ujung karang yang menghadap ke laut. Memandangi tempat dimana buku sekaligus teman satu-satunya hanyut ke laut dingin. Ia mulai memutar kembali kehidupan lalunya bersama Jinki. Kehidupan dimana ia merasa paling berharga dan disayang. Ia seperti kakak, teman, sekaligus sahabat baginya. Selain telah ditinggal kedua orangtuanya, Kara selalu mengandalkan Jinki yang setiap saat ada disampingnya. Makanya ia begitu kehilangannya. Airmatanya turun lagi, ”mianhe......aku.....tak bisa menjaganya........” ucapnya sambil terisak. ”mi....mianhe Jinki-yah.....jeongmal.....mi....mianheee....” katanya lagi lirih. Jonghyun yang sedari tadi telah berdiri di bawah karang memperhatikan Kara yang menangis. Ia pun menghampirinya. Melangkah menuju tempat Kara berdiri, ”kau, akan pulang sore ini?” tanya Jonghyun. Kara hanya diam tak memperdulikan Jonghyun yang menantikan jawabannya. ”dia benar-benar berharga ya?” tanyanya lagi. Kini Kara membalikkan tubuhnya, memandang Jonghyun. Tapi ia hanya diam, bibirnya bergetar, ”kau tak mau selamanya terjebak masa lalumu itu kan?” tanya Jonghyun lagi tak menyerah. Lagi-lagi Kara tak menjawab, ia lebih suka diam dan tak memperdulikan pertanyaan Jonghyun. Jonghyun menghampirinya, menatapnya dengan lembut. ”aku.....aku tak bisa melupakannya! Ini......ini begitu berat bagiku!.......sampai kapanpun kau tak akan pernah mengerti!” ucap Kara. Jonghyun tersenyum lembut, ”aku mengerti..............aku sangat mengerti betapa sulitnya melupakan seseorang yang kita sayang” jawab Jonghyun. Kara mendongakkan kepalanya, menatap Jonghyun dengan mata bengkaknya. ”tahu apa kau?” kata Kara. Jonghyun menunduk, ”aku..........aku pernah merasakannya. Kedua orangtuaku meninggal dalam suatu kecelakaan, beberapa hari kemudian, kakak perempuan ku satu-satunya juga meninggalkanku sendiri di dunia ini. Begitu singkat, semua orang yang kucinta hilang dari pandanganku bahkan dari dunia ini. Aku sempat jadi seperti mu, tak peduli dengan orang lain atau apapun. Tapi keinginan untuk bangkitlah yang membuatku tak terpuruk terus-menerus. Kita, harus melihat masa depan. Orangtua atau kakakku pasti senang kalau melihat kita bahagia disini. Begitu juga dengan Jinki” ucap Jonghyun menjelaskan masa lalunya. Kara begitu kaget, tak tahu kalau Jonghyun lebih berat menanggung kesedihan daripada dirinya. Kata-kata Joongki terus melayang di pikirannya. Ia harus dewasa. Ia ingin membuat Jinki bahagia melihatnya. ”jangan kalah dengan masa lalu...............kita buat masa sekarang lebih berharga dari masa lalu” kata Jonghyun sambil memegang pundak Kara. Membuat Kara semakin terhanyut. ”bantu aku......bantu aku untuk bisa sepertimu” ucap Kara terbata-bata. Jonghyun tersenyum lembut, ”keinginanmulah yang bisa membantumu, kau pasti bisa Kara!” kata Jonghyun memberi kekuatan pada Kara yang rapuh. Ia menggenggam tangan Kara dengan lembut. Kara menyambutnya. Ia menangis, entah sedih atau senang karena ia mempunyai teman baru. Jonghyun memeluknya, menenangnkan Kara yang semakin terisak. ”mi.....mianhe” ucap Kara. ”aku.......aku tak tahu kau.....” ucapnya lagi terpotong oleh ucapan Jonghyun, ”...tak apa! Aku tak pernah merasa kau punya salah denganku. Mulailah hidupmu yang baru Kara. Ada aku, dan kedua kakak yang menyayangimu”. Jonghyun melepaskan pelukannya, Kara menghela nafas panjang dan berusaha tersenyum. Kara sadar, kalau masa lalu hanya untuk dikenang, bukan untuk di ratapi terus-menerus. Tapi tanpa masa lalu, kita tak akan bisa belajar untuk kehidupan masa mendatang. Kini ia punya Jonghyun yang akan selalu menemaninya. Memberikan semangat padanya.

            ”Kara-ya, Jonghyun-a!” ucap Dara onnie dari pintu kedai menyambut kedatangan mereka berdua. ”onnie, mianhe, aku selalu membuatmu repot” ucap Kara sambil tersenyum. Dara yang mendengarnya terharu, ”kara-ya—saranghae!” ucap Dara memeluk sang adik. Joongki yang melihat mereka turut senang, ”Kara-ya, kau harus dewasa! Oke!” ucap Joongki mengacak-ngacak rambut Kara. ”Kara-ya, teman barumu nampaknya kepanasan! Ggaja masuk!” ucap Dara mengajak masuk Jonghyun. ”ah onnie- rasanya kita tak harus pulang sore ini. Aku ingin menghabisakan liburanku disini saja” ucap Kara mengagetkan semuanya. ”kau tak jadi pulang? Jeongmal?” tanya Jonghyun tak percaya. Kara mengangguk, ”ah ara- pasti karena kau sudah punya teman baru disini! Haha baiklah kapanpun kau mau, onnie sanggupi” ucap Dara terlewat senang. ”gomapta-” kata Kara. Mereka senang, adiknya mulai bangkit dari kehidupan masa lalunya.
            ***

            Sudah dua minggu Kara berada disini. Lusa ia akan mulai masuk sekolah. Dan ini akan jadi liburan terindahnya selama duduk dibangku SMA. Gadis itu masih duduk di pantai menikmati udara yang segar. Mengaduk-ngaduk pasir putih dan mencari kerang yang indah. Begitu terlihat senang. Jonghyun menegurnya dari belakang, ”ya! Kau ini autis huh main sendirian” ucap Jonghyun dari kejauhan. Kara menoleh dan mengajaknya untuk main bersama. ”yogi-ya!” panggil Kara. Jonghyun pun menghampirinya. ”boda! Kerang nya indah” ucap Kara. Jonghyun tersenyum. ”kau sudah jarang berteriak lagi sekarang haha” ucap Jonghyun. Kara menatapnya sinis, ”MWORAGU!” triaknya kesal. Jonghyun menutup kupingnya. ”Kara-ya kau senang membaca buku ya?” tanya Jonghyun. Dengan cepat Kara mengangguk. ”kau suka membaca buku?” tanya Kara. Jonghyun tersenyum, ”aku juga” ucapnya. ”wah kenapa ga bilang! Aku punya banyak koleksi buku yang bagus, nanti kita baca bersama ya” ajaknya senang. Jonghyun mengangguk senang. ”ini!” ucap Jonghyun sambil melempar sebuah buku padanya. Sebuah buku bersampul putih. Ia membuka buku itu dan tertulis nama pemiliknya, Lee Jonghyun. ”ini buku milikmu?” tanya Kara. Jonghyun mengangguk, ”untukmu. Itu buku yang paling kusuka diantara buku-buku ku yang lain” ucap Jonghyun. Kara tersenyum, ”wah gomapta- aku selalu ingin buku ini. Entah kenapa selalu habis saat ingin membelinya.” ucap Kara. Jonghyun pun duduk di sampingnya, ”tepat dugaanku, buku ini memang limited edition hehe”. Kara merasa tak enak, ”Jonghyun-a tak apa kalau ini untukku? Apalagi limited edition, dan kau menyukainya! Aku jadi merasa tak enak!” kata Kara. Jonghyun diam sejenak, Kara menatapnya aneh, ”aku ingin buku yang kusuka ada ditangan orang yang kusuka juga” ucapnya pelan. Ia tertunduk, tak berani menatap Kara. Mukanya memerah. ”ma...maksudmu” tanya Kara tak jelas. Jonghyun menoleh, memandang Kara. Ia menggenggam tangan Kara dan tersenyum lembut, ”saranghae” ucap Jonghyun. Kara kaget mendengarnya, ”apa kau bilang?” Jonghyun menghela nafas, ”hh lemot! SA-RANG-HAE KARA-YA!” ulangnya. Kara tersenyum puas, menatap Jonghyun dengan senang. ”aku...........ingin mendengarnya lagi!!!!!!!!” pinta Kara. Jonghyun menunduk lemas, ”shireo” ucapnya. Kara tertawa, ”uh ! soalnya bru kali ini aku mendengar orang yang bicara begitu padaku. Hehehe” ucap Kara. Jonghyun memandangnya, ”jadi?” tanyanya. Kara tertawa, ”NADO!!!!!!” triaknya. Jonghyun pun ikut tertawa, ”hahaha kau memang suka berteriak!” ucap Jonghyun. Mereka begitu senang. Kara bukan hanya mendapat seorang teman atau sahabat disini. Tapi ia juga dapat cinta pertamanya disini! Tak menyangka Kara yang begitu maniak dengan buku kesayangannya bisa sedikit berubah karena cowok yang benar-benar ia benci. Tapi kini ia sadar, Jonghyunlah yang bisa mengubah sisi negatif dirinya. ”andai saja Koko Ni Iruyo ku masih ada- aku benar-benar menyukainya. Ceritanya sangat bagus, karena itulah aku suka” ucap Kara lemas. Jonghyun menatapnya, ”hh memang bagus sih, akupun suka” ucap Jonghyun. Kara menoleh. ”kau......tahu buku itu????” tanya Kara kaget. ”jelas. Buku itu kan dipasarkan hingga luar negeri, bagaimana aku tak tahu” jawab Jonghyun enteng. Kara masih menatapnya, ”sudahlah” ucap Jonghyun menghentikan pembicaraan Kara. Kara tertunduk lemas, ”bukan hanya aku suka cerita itu, tapi aku ingin punya sedikit kenangan tentangnya. Setidaknya buku itu. Aku  berjanji kalau aku bisa menemukan buku itu lagi, aku tak akan terus meratapi masa laluku lagi, karena........” mereka diam sejanak. Keadaan berubah sunyi. ”karena aku kan sudah punya kau” lanjut Kara. Jonghyun menatapnya, ”hh kau berjanji?” tanya Jonghyun. Kara mengangguk lemas, ”aku kan sudah punya kau, mana bisa aku melanggar janjiku” yakin Kara lemas. Jonghyun menghembuskan nafas panjang. ”mianhe” ucap Jonghyun. Kara memandangnya sambil tersenyum, ”sudahlah, sudah hilang. Aku juga tak begitu mengharapkannya hehehe kan aku sudah punya ini” ucapnya sambil menunjukkan buku pemberian Jonghyun. Jonghyun tersenyum lembut sambil mengusap rambut panjang Kara. Sedikit demi sedikit Kara mulai mengikhlaskan buku kesayangannya.
            Hari ini Kara akan pulang ke Seoul. Jonghyun yang juga sedang liburan akan kembali lusa ke Seoul. Kara bersiap berangkat bersama kedua kakaknya. Tapi Jonghyun tak kunjung datang ke kedainya. Saat dia duduk di kursi pojok kedai, ia menemukan sebuah buku biru. Basah, lecek, dan sedikit robek. Ia kenal buku ini, ”Koko Ni Iruyo!” ucap Kara. Ia membuka sampul buku itu, tertera namanya. “Ini…..ini bukuku????!!!!” ucapnya tak percaya. “ONNIE OPPA! AKU MENEMUKAN BUKUKU DISINI!! AKU MENEMUKANNYA!” triak Kara senang. Joongki dan Dara mendekatinya kaget. “omo! Kok bisa?” tanya Dara kaget. Kara menggeleng, “hh tapi aku.......apa aku bisa menyimpannya lagi. Aku tak yakin Jonghyun mengijinkannya” ucap Kara lemas. ”siapa bilang! Jagalah buku itu baik-baik. Dan jagalah janjimu” ucap Jonghyun. Kara menatapnya kaget. Ia berlari menuju Jonghyun yang tengah berdiri di ambang pintu dan memeluknya, ”PASTI AKU AKAN MENJAGA KEDUANYA!” triak Kara lantang. ”jangan triak!!!!!” ucap Jonghyun. Semua tertawa. Kara begitu senang. Jonghyun pun senang melihatnya sesenang ini. Jonghyun memang mengambil buku itu sesaat setelah ia membopong Kara ke kedai. Ia begitu merasa bersalah pada Kara saat itu. Ia pun tak ingin segera mengembalikannya karena ia ingin Kara sadar akan perilakunya. Tapi begitu mendengar janji Kara, ia yakin Kara begitu membutuhkannya. Tanpa harus kembali ke masa lalunya, Jonghyun yakin ini pantas dipegangnya sebagai kenangan dari Jinki.  Dan ia yakin, bahwa ia lah yang kini ada di hati Kara.

            Liburan terindah Kara telah terlewati. Kini ia bisa lebih menghadapi masa depan. Mempunyai teman juga sahabat. Tak ada yang lebih menyenangkan dari itu semua. Walaupun ia belum berani mengutarakan segalanya di depan teman barunya, tapi ini sudah merupakan kemajuan yang pesat. ”gomapta-” gumam Kara di depan buku pemberian Jonghyun. Ia begitu senang atas keberadaan Jonghyun disisinya. Karena ia banyak belajar darinya. Dan kini Kara bahagia atas hidupnya yang telah lengkap.

4 comments:

  1. ceritanya bagus banget, suka suka :)))))

    ReplyDelete
  2. Satu kata: Amazing! :)

    ReplyDelete
  3. huaaah..
    suka.suka.sukaa..

    ReplyDelete
  4. bagus.....aku suka tata bahasa yang author pake...=D mantap...^^
    ceritanya juga..alurnya...*bingung mau komen apa lagi...aku suka alur ceritanyaaaaaa

    ReplyDelete

Cara komen (bagi yang kurang jelas):

1. Ketik komen kalian di kotak komentar.

2. Di samping 'Berikan komentar sebagai', klik Google (bagi yang menggunakan Blogspot) atau LiveJournal/Wordpress/AIM/TypePad/OpenID (bila kalian mempunyai akun disana)

3. Atau bagi yang tidak punya akun sama sekali / tidak mau ribet, klik NAME/URL (kosongkan URL bila tidak mau ditampilkan)

4. Klik 'Poskan komentar'